KETERTINGGALAN, JARENE.


Puasa memang akan terasa lebih lengkap, jika dilaksanakan dengan berkumpulnya seluruh anggota keluarga dalam satu bulan penuh, itulah yang saya rasakan sekitar 15 tahun yang lalu. Tidak seperti saat ini, yang hampir setiap tahun menjalankan ibadah puasa, tapi tidak berbarengan dengan anggota keluarga dalam satu bulan penuh, apalagi bulan suci ramadhan tahun ini yang bersamaan dengan datangnya wabah covid-19, dengan kondisi seperti itu sebagai perantauan, saya terancam tidak bisa pulang, menyusul keluarnya peraturan pemerintah dengan dilarangnya mudik ke kampung halaman.

15 tahun yang lalu, kata bahagia masih cukup sederhana, tidak harus dengan ponsel pintar yang bisa menunjukkan segala sesuatu yang kita tidak tahu. Tidak pula harus berjalan-jalan ke mall hanya untuk membeli baju baru sebagai bekal persiapan hari raya, padahal belum tau juga apakah kita masih bisa mendapati hari raya atau tidak.

Itulah kondisi saat itu, di sebuah desa yang terletak di ujung kabupaten Bojonegoro. Desa yang jauh dari hiru pikuk perkotaan, jauh dari polusi udara, erat dengan budaya gotong royong, kalau kata masayarakat dulu “Nek tonggone seneng, akdewe yo melu seneng, nek tonggone susah, akdewe yo kudu melu nanggung beban kesusahane”. Namun seiring berjalannya waktu, keadaan mulai berubah, ponsel pintar mulai banyak ditemui di desa, bumi semakin tua polusi udara masuk juga ke desa, hal ini di pengaruhi dengan semakin banyaknya kendaraan bermotor di desa-desa.

Pada rentan tahun tersebut, kata bahagia masih cukup sederhana. Mungkin hal ini disebabkan dengan apa yang sering kita sebut sebagai daerah ketertinggalan. Dengan predikat yang sering disematkan ke daerah pedesaan, saya sempat merasa malu ketika pertama kali memutuskan merantau jauh dari desa, untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang yang lebih tinggi. Bagaimana tidak, di saat teman-teman diperantauan sudah mengenal mall, saya masih bertanya-tanya apa saja sih yang ada di mall, di saat teman-teman sudah terbiasa nongkrong di cafe-cafe, saya hanya bisa membayangkan nongkrong dengan segelas kopi seharga 1000, di sebuah warung kecil dengan penjaga simbah-simbah, persis seperti dulu yang sering saya lakukan.

Kata bahagia yang cukup sederhana kala itu, contohnya ketika datangnya bulan suci ramadhan. Seperti biasa, sehari sebelum puasa dalam rangka menyambut bulan ramadhan, anak-anak berkumpul di mushola sejak pagi hari, untuk bergotong-royong membersihkan mushola. Ada yang sibuk menata al-qur’an di lemari, ada yang sibuk menyapu, ada yang sibuk ngepel lantai, ada yang sibuk ngecat dinding-dinding mushola yang masih terbuat dari kayu, ada juga anak-anak yang masih terlalu kecil hanya sibuk bermain karet di halaman depan mushola.

Kita melakukan dengan riang gembira, apakah kita bahagia karena akan datangnya bulan suci ramadhan ? saya rasa tidak, masih kuat ingatan saya dalam buku Merasa Pintar, Bodoh Saja Tidak Punya karya Rusdi Mathari, buku yang saya beli dan saya baca pada akhir tahun 2016. Dalam bukunya di bagian pertama yang berjudul “Benarkah Kamu Merindukan Ramadhan ?” terjadi suatu dialog antara Cak Dlahom dan Mat Pithi yang kira-kira seperti ini

Cak Dlahom : “Menurutmu, kenapa umat islam diwajibkan berpuasa ?”
Mat Ptihi : “Supaya bertakwa Cak”
Cak Dlahom : “Itu tujuannya Mat”
Mat Pthi : “Jadi, kenapa ada kewajiban Cak”
Cak Dlahom : “Menurutmu kenapa ada hukum puasa ? kenapa kewajiban puasa di turunkan oleh Allah ?”
Mat Pithi : “Lah, saya kan yang bertanya Cak”
Cak Dlahom : “Mat, sesuatu yang diwajibkan adalah sesuatu yang manusia tidak suka mengerjakannya. Kalau manusia suka melakukannya, untuk apa di wajibkan Mat ?”

Itu saja yang saya kutip, jika pembaca penasaran seperti apa kelanjutkannya, saya sarankan untuk membeli bukunya segara, sebagai teman selama bulan ramadhan, mungkin sekarang sudah sampai terbitan ke sepuluh.

Kembali ke topik, waktu itu kita melakukan ritual H-1 Puasa karena bahagia dan senang bisa berkumpul bersama-sama dengan teman-teman, meski harus dalam kondisi bekerja membersihkan mushola.  Bukan karena bahagia dan senang menyambut bulan ramadhan, seperti kata Cak Dlahom, kita harus terus terang kepada Allah bahwa kita tidak suka berpuasa, tetapi kita siap dan ikhlas menjalankan sesuatu yang tidak kita suka itu.

Persis seperti kisah dalam buku merasa pintar, bodoh saja tak punya. Setelah membaca bagian diatas, dalam hati saya katakan “Jancuk tenan buku iki, sambil ketawa-ketawa saya merasa sedikit malu”. Setidaknya apa yang kita lakukan dahulu dalam menyambut ramadhan, sudah seperti ritual yang dilakukan H-1 puasa, ritual itu hanya sebatas hegemoni yang dicekokkan para tetuah kita untuk menyambut ramadhan, dimana kita dipaksakan suka untuk menyambutnya, tanpa di beri tahu mengapa puasa hukumnya wajib misalnya. Di sisi lain, sekarang saya berpikir apakah dahulu kita di kibuli, dengan rayuan menyambut ramadhan kita di suruh untuk membersihkan mushola secara keseluruhan.

Tetapi terlepas dari itu semua, ada sesuatu yang di ajarkan para tetua kita pada saat itu, sebuah kesulitan akan terasa sangat ringan jika kita lakukan secara bersama-sama, apalagi dengan penuh rasa gembira, tanpa perlu handphone atau baju baru sebagai pelengkapnya. Dan saya yakin, momen seperti itu kini akan sangat susah ditemui, kalaupun bisa ditemui pasti kesibukannya dalam membersihkan mushola tambah satu lagi, yaitu sibuk selfi update status, mengabarkan ke semua orang bahwa dia sedang bekerja, dan setelah statusnya jadi ia pergi.

Oleh : Tuanmuda.

0 Response to "KETERTINGGALAN, JARENE."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel