CERAMAH YAI ALEX, MAKNA LEBARAN


Misi besar yang sudah kami rencanakan, yang sampai saat itu sudah menginjak tahap pemetaan masalah, kini sepakat kami hentikan sejenak. Hal itu karena hanya dalam hitungan jam umat islam di seluruh dunia akan menyambut hari kemenangan, hari penuh kebahagiaan, dan di hari kebahagiaan itu kami tidak ingin mencampurinya dengan urusan-urusan yang lain, termasuk rencana besar kami.


Pada malam lebaran, masyarakat kami terbiasa dengan melakukan perayaan takbir keliling. Takbir keliling kami lakukan memutari desa, dengan cara berjalan kaki bersama-sama mulai dari anak-anak hingga orang tua sambil membawa obor, sebelum akhirnya gema takbir kami lantunankan di dalam-dalam masjid dan dalam-dalam surau.

Sedari siang para pemuda sudah berkumpul dilapangan, untuk menyiapkan segala keperluan malam nanti, mulai dari mobil komando, sound system, kentongan, dan juga obor. Obor dan kentongan merupakan satu elemen yang wajib ada, sebab masyarakat kami meyakini bahwa filosofi obor dan kentongan adalah simbol kemenangan, setelah perjuangan panjang dari kegelapan dan kesunyian sebelum masuknya agama islam. Sebab pada zaman dahulu belum ada listrik, simbol penerangan datangnya agama islam adalah dengan cara menyalakan obor, dan kentongan sebagai alat menyebar luaskan kemenangan itu dengan cara di pukul.

Di sela-sela menyiapkan semua itu dilapangan, saya mencoba memantik pembicaraan sebagai refleksi hari kemenangan tersebut.

“Cok.. jane opo sih tujuane akdewe ki nek saben riyoyo mesti ngeneki ?”

“Ngeneki pie maksudmu oz ?” Tanya paijo.

“Yo ngeneki jo.. poso sak ulan, terus riyoyo foya-foya tuku klambi anyar, masak-masak, gawe reuni-reunian, terus jare saling maaf memaafkan..”

“Yo tujuane jelas, merayakan kemenangan setelah satu bulan berpuasa..”

“Lha emang maknane poso ki opo, kok kudu di rayakno ?”

“Maknane poso kui, menahan segala bentuk hawa nafsu, menjalankan perintahn-Nya..”

“Brati salah jo akdewe ki..”

“Kok iso salah mas ?” Tanya Ferry.

Alex yang mendengarkan pembicaraan kami sambil menghaluskan bambu buat kentongan, tiba-tiba menghentikan pekerjaannya dan menghampiri kami.

“Aku sepakat.. akdewe ki salah koyo ngeneki..”

“Pie to mas Alex kok malah sepakat.. aku takon kok iso salah ? jajal jawaben..” kata Ferry.

“Ngene fer.. nek poso kui menahan segala bentuk hawa nafsu, terus pas riyoyo kowe nyambut secara berlebihan kui salah. Klambi, sarung, clono, kaos, sandal kabeh kudu anyar, terus masak opo ae, opor, soto, rawon, mbeleh wedos.. kui kan nafsu ? yo po ra ?”

“Oiyo yo mas..”

“Terus kudune akdewe pie lex ?” Tanya Jepri.

“Yo kudune ngene, nek pancen riyoyo kui sebagai bentuk merayakan kemenangan, kudune yowes gak perlu berlebihan, cukup sederhana wae.. terus aku nambahi, poso kui ben kowe-kowe kabeh podo ngerti, podo sadar pie rasane kalaparan, pie rasane angel golek mangan.. isek mending kowe mung gak mangan awan sak ulan tok.. kae gelandangan, pengemis, anak jalanan, mbendino ngrasakno poso..”

“Bener lex.. terusno..” sahutku.

“Memaafkan di hari raya kui gampang, tapi njalok sepuro ngakoni kesalahan kui angel.. menungso mesti ngroso luwih aku seko liane, luweh duwur drajate seko liane, ngroso gak nduwe salah karo liane.. padahal riyoyo tuku klambi anyar, clono anyar, mangan-mangan mewah, kui kesalahan.. ngopo ra njalok sepuro ?”

“Salah marang karo sopo maksude lex ?” Tanya paijo.

“Salah marang awak e dewe, mergo merasa wes bener wes menjalankan ibadah poso terus ngerayakno nagnggo coro berfoya-foya. Salah marang glandangan, pengemis, anak jalanan.. padahl kae kabeh agomone yo islam.. brati nek akdewe menyambut riyoyo berlebihan, wes doso berhura-hura gembira padahal dulur-dulur e, tonggo teparone angel mangan, sandangan apik gak nduwe..”

“Jann.. alex tambah pinter tenan sakiki, seneng aku..” kataku sambil memuji Alex.

“Kudune nek poso kui maknane mendekatkan diri kepada-Nya, bar poso terus riyoyo ora kok njuk berfoya-foya, tapi mestine semakin sadar nek sekitar e isek akeh seng kekurangan.. nek ora semakin sadar, brati posone sebatas ibadah melok-melokan gak paham maknane sek tenan..”

Mendengar ceramah Alex waktu, yang lain hanya terdiam dan mengangguk-angguk. Ferry yang duduk disebelahku berbisik, katanya mas Alex yang selama ini dianggap berandalan, jarang ikut berpuasa, sholat kadang masih bolong, ternyata dengan berandalannya itu mampu menyadarkan kami dengan cara sederhana.

0 Response to "CERAMAH YAI ALEX, MAKNA LEBARAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel