MENYAMBUT LEBARAN, SEKALIGUS PILIHAN KEPALA DESA #4

Setelah malam pertemuan untuk memetakan persoalan di
masyarakat kami, lagi-lagi saya, Alex, dan Ferry tidak ingin menyia-nyiakan
waktu. Siang ini kami berjanji setelah sholat luhur akan bertemu lagi di rumah
Ferry. Tapi kali ini tidak ada makanan dan minuman, karena memang belum
waktunya berbuka hehe.
Mamak yang beberapa waktu mengamatiku, seolah ingin
mengetahui apa yang sedang anak lanang lakukan, sehingga terlihat sibuk
sekali akhir-akhir ini. Menjelang sholat luhur waktu itu, mamak bertanya
kepadaku.
“Eenek opo to lee..
kok ketoke sibuk tenan..?”
“Mboten kok mak..
namung ketemu kaleh rencang-rencang sing nembe mantok-mantok merdamel niko..” Jawabku sambil menyembunyikan misi ini.
“Oalah yowes.. yo ngunu
rapopo, tapi mbok sobo omah, mosok kok nek omah mung turu karo mangan tok..”
“Hehehe.. nggeh mak”
Baca Juga : MENYAMBUT LEBARAN DAN PILIHAN KEPALA DESA #1
Ternyata mamak hanya resah, karena anak lanang
yang ganteng ini jarang sekali ada di rumah, sekalinya ada di rumah hanya untuk
makan, tidur. Itulah pengorbanan kecil saya, setidaknya hanya ini yang dapat
saya berikan untuk perubahan desa, waktu dan pikiran. Ingin memberikan
materipun saya juga tidak mampu.
Sengaja misi ini saya sembunyikan dari mamak, hal itu
untuk menjaga pikiran mamak supaya tetap tenang, tidak berpikiran macam-macam
pada anaknya. Karakter mamak jika sedang memikirkan sesuatu, akan terus dibawa
spaneng, sehingga dapat berujung pada timbulnya sebuah penyakit. Itulah yang
tidak ingin saya harpkan dari mamak.
Semoga menyembunyikan misi baik ini, tidak berpengaruh
pada jalannya sebuah proses panjang nanti. Sebab bukan maksud tidak ingin
diketahui mamak tentang hal ini, tetapi hanya berusaha menjaga agar semua
baik-baik saja.
Usai menjalankan sholat luhur berjamaah dengan mamak,
saya segera pamit pergi ke rumah Ferry/Yai Gatot, dengan izin menyiapkan
keperluan takbir keliling esok. Padahal sebenarnya untuk menyiapkan langkah
selanjutnya dari misi ini.
Sesampainya disana, sudah ada Alex, Ferry, dan Yai
Gatot di halaman belakang rumah. Memang halaman belakang rumah Ferry, asyik
sekali tempatnya sebab di dukung oleh adanya kolam-kolam ikan, tanaman-tanaman
sehingga enak dijadikan tempat bersantai dan membicarakan hal apapun.
Pada pertemuan itu, kami merangkum dari seluruh
pembicaraan semalam dan membungkusnya menjadi suatu kesimpulan, yang nantinya
kesimpulan ini akan disebarluaskan kepada pemuda-pemuda yang lain. Bukan kami
bertindah layaknya tokoh, toh kesimpulan ini tidak disebarluasakan dengan cara
sentralistik kebenaran, melainkan interaktif melengkapi apa yang dirasa kurang.
Dari apa yang telah kami rangkum, setidaknya ada
beberapa hal yang menjadi persoalan yang terjadi secara berulang-ulang dalam
masyarakat kami. Pertama adalah, tidak adanya upaya pengembangan SDM dari
pejabat setempat, malah dari waktu ke waktu seiring bergantinya pejabat-pejabat
desa, yang tampak hanyalah pembangunan infrastruktur balai desa.
Selajutnya adalah, angka putus sekolah yang tinggi
masih memprihatinkan dan terus membayang-bayangi masyarakat kami. Pendidikan yang
seharusnya menjadi hak seluruh warga negara, nyatanya masih sangat susah untuk
di akses masyarakat kami. Tentu banyak faktor dalam hal ini, tetapi disini kami
menyoroti bahwa tidak adanya kehadiran sesosok pemimpin desa, yang mampu
mengeluarkan masyarakat dari cengkraman kapitalisasi pendidikan yang terjadi di
desa kami.
Baca Juga : MENYAMBUT LEBARAN DAN PILIHAN KEPALA DESA #2
Faktor tingginya angka putus sekolah, salah satunya
adalah ekonomi. Masyarakat yang sebagian besar berprofesi petani, tapi nyatanya
untuk menyekolahkan anak-anaknya masih saja kesusahan. Pasti ada yang salah,
lagi-lagi sosok pejabat desa yang semestinya dapat masuk kedalam persoalan ini
dan memberikan pencerahan, tapi tidak pernah sekalipun hal ini dilakukan. Pembentukan
kelompok-kelompok tani, serta pendampingan terhadap petani mestinya dapat
dilakukan oleh pemerintah desa sebagai upaya peningkatan kesejahteraan masyarakat.
Tidak adanya ide-ide kreatif yang lahir, untuk
memanfaatkan potensi-potensi desa. Memang desa kami tidak ada potensi alam yang
bisa dikelola dan menjadi bermanfaat, tetapi sumber daya-sumber daya manusia sebenarnaya
adalah suatu potensi yang tidak dapat dilupakan keberadaannya.
Memanfaatkan pemuda-pemuda yang putus sekolah,
masyarakat yang bekerja serabutan, untuk misalnya tenaga-tenaga itu dijadikan
sebagai penggeraka energi kreatif desa pasti menjadi salah satu prestasi yang
mampu menurunkan angka pengangguran dan setidaknya menjamin kelangsungan hidup
warganya tanpa harus pergi meninggalkan desa dan menjadi buruh di ibu kota.
Cara-cara ini kami rasa lebih bermanfaat dari pada
memberikan bantuan dalam bentuk materi, memberikan wadah untuk berkembang jauh
akan berumur panjang ketimbang memberikan kue sekali makan habis.
Apakah semua itu harus dilakukan oleh pemerintah desa
? tentu terlalu politis jika gerakan ini tidak ada motif lain yang mendorong,
melainkan hanya berangkat dari buruknya citra pemerintah desa. Ada dorongan
lain, yang menjadi energi utama sebagai modal gerakan ini, yaitu tentang kemajuan
desa dan bagaimana kesejahteraan warga itu tanpa harus meninggalkan desa.
Dalam perspektif yang lain, perubahan berdasarkan
analisa masalah itu dapat kami lakukan dengan cara-cara seperti membangun gerakan
alternatif. Tetapi, kami lebih memilih menggabungkan dua cara itu, membangun
gerakan alternatif juga mendorong gerakan organisatoris.
Gerakan organisatori itu misalnya adalah menekan
pemerintah desa untuk hadir di segala persoalan masyarakat desa, tingginya
angka putus sekolah dan tidak adanya ide-ide kreatif yang memanfaatkan potensi
desa, dapat dilakukan secara mandiri oleh masyarakat. Tetapi lagi-lagi, kami
menuntut kehadiran pemerintah desa selaku pelayan rakyat untuk hadir dalam hal
ini, menggunakan dana-dana desa demi membentuk suatu wadah kreatif tersebut
akan jauh lebih mempercepat prosesnya sebab sudah ada dananya, ketimbang harus
melakukannnya sendiri.
Toh selama ini kemana habisnya dana desa juga tidak
kelihatan, hanya kelihatan pmebangunan balai desa saja.,Namun meski begitu,
seperti niat kami di awal bahwa kami atas nama pemuda juga akan membangun
gerakan praksis dalam tataran akar rumput, mementuk wadah kreatif itu misalnya.
Setelah proses menganalisa problem desa ini selesai,
dan kemudian disebarluaskan ke pemuda dan masyarakat luas serta ditambahi sesuatu
yang di anggap masih kurang. Maka langkah selanjutnya adalah mengkomunikasikannya
dengan pemerintah desa, momentum yang pas adalah sembari menyambut pilkades
yang akan datang, mengusulkan adanya debat terbuka antar calon misalnya, serta
harus menjelaskan visi misi setiap calon dihadapan seluruh masyarakat desa.
Baca Juga : MENYAMBUT LEBARAN DAN PILIHAN KEPALA DESA #3
Dengan begitu, kami akan tau siapa calon-calon
pemimpin yang memang berkualitas dapat memajukan desa kami. Namun sebelumnya,
harus dilakukan gerakan penyadaran terlebih dahulu dalam masyarkat luas di desa
kami, tentang pentingnya sebuah kemajuan, kesejahteraan yang hadir dari
sentuhan lembaga yang semestinya bertugas sedemikian rupa.
Selain itu, ikhtiar ini juga kami lakukan dalam upaya
menghilangkan money politik secara perlahan dari tubuh desa kami.
Bersambung..
0 Response to "MENYAMBUT LEBARAN, SEKALIGUS PILIHAN KEPALA DESA #4"
Post a Comment