MENYAMBUT LEBARAN, SEKALIGUS PILIHAN KEPALA DESA #3
Meski lebaran tinggal dua hari lagi, kami tidak ingin membuang-buang
waktu. Malam selepas sholat tarawih dan tadarus, saya, Alex, dan Ferry menemui
orang-orang yang sudah kami petakan sesuai kapasitasnya. Pertama kami menemui
orang-orang dengan tipe pemikir, dalam kelompok ini tidak banyak orang, hanya
ada sekitar 12an orang dari sekian puluh jumlah pemuda.

Pertemuan yang kami rencanakan itu, bertempat di warung
kopi yang sedikit jauh dari desa kami, warung kopi yang biasa kami sebut penceng.
Bukan apa-apa, hal itu kami lakukan supaya memberi kesan suasana baru dengan
harapan, adanya suasana baru juga dapat memberikan pemikiran-pemikiran yang
baru atau yang fresh juga.
Sebelumnya, saya, Alex, dan Ferry bertemu terlebih dahulu
dengan mas Gepeng dan cekot. Dua orang yang kami anggap senior, yang sudah
terlebih dahulu terjun dalam hal-hal seperti ini. Karena itulah kami menemui
mereka, setidaknya mereka dapat memberikan masukan-masukan tentang apa dan
bagaimana kira-kira yang harus kami lakukan setelah ini.
Baca Juga : MENYAMBUT LEBARAN DAN PILIHAN KEPALA DESA
Sesampainya di warkop penceng, baru ada sekitar
8 orang yang tiba disana, artinya masih ada sekitar 4 orang lagi yang belum
datang. Sembari menunggu yang lain kami mencoba membuka obrolan dengan sebuah pertanyaan
yang sudah kami bertiga rencanakan.
“Cok.. kiro-kiro
desone akdewe ki iso maju ora yo, iso berkembang ngunu ?” Pancing Alex.
Sesuai dugaan kami, dari pertanyaan singkat itu dapat
memantik seluruh teman-teman yang ada di sana, artinya kami tidak salah
memetakan mereka dalam kelompok ini, cukup responsif dan berjalan dua arah. Satu
per satu mereka ngomong mengutarakan pendapatnya. Luar biasa.
Dari sekian banyak argumen yang dilayangkan, ada satu
argumen yang menarik dan ini adalah goals kita malam itu. Target kita malam itu
adalah, sebelum membicarakan apa dan seperti apa perubahan yang kita inginkan,
kami ingin teman-teman pemuda yang lain menyadari terlebih dahulu tentang
kondisi yang saat itu masyarakat desa hadapi, baik kondisi sosial, ekonomi dan
juga politik.
“Ngene cok.. nek menurutku
sak durung e akdwe ngomong iso ora desone akdewe maju, akdewe kudu ndelok sek
kiro-kiro masyarakat desone kene wes sejahtera durung, terus nek durung
kiro-kiro masalah e mergo opo.. kok ngunu nek menurutku, tapi mboh nek salah..” ucap salah satu dari teman kami.
Persis seperti apa yang saya, Alex, dan Ferry
rencanakan. Sebelum membicarkan lebih jauh, pertama kita harus menyadari seperti
apa yang di ucapkan salah satu teman kami tersebut.
“Bener jak.. menurutku
yo kok ngunu, masok kui.. terus nek menurutku masalah sejahtera opo durung,
jelas durung e.. delok pak ku mbok ku karo petani-petani liyane kae.. sak ben tandur
terus panen tapi hasil e ratau iso nggo nyelengi, panen pari misal e.. okelah
panen raya, panen akeh, enek seng iso di simpen, tapi pas musim paceklik
simpenane di dol kabeh, malah sampek-sampek iso utang, ngko pas musim tandur
golek utangan meneh nggo modal.. pas panen di dol meneh nggo nyaur utang..
ngunu terus sampek bongko gak sugeh-sugeh aku..” Sahut teman yang lain.
“Aku sepakat jo.. kui
termasuk salah siji indikator di nggo ngukur kesejahteraan masyarakat deso seng
mayoritas petani.. mosok petani seng nyediani pangan wong sak ndunyo, kok
iso-isone ngutang.. brati ono seng ora beres masalah sistem pertanian
masyarakat e dewe..”
jawabku sembari membenarkan apa yang dikatakan teman kami.
“Brati nek misal e
faktane koyo ngunu, iki ora masalah kesalahan setiap individu petani, tapi seharus
e pemimpin skala desa kusus e iso moco keadaan koyo ngeneki.. ora kok
bangunbalai deso terus seng di gedekno, jancok to pie..” sahut Alex ber api-api, sambil mengarahkan pembicaraan
pada sektor pejabat-pejabat desa.
“Nek seng di omong mas
Alex bener, masalah kualitas pejabat desa.. momen e pas iki sesok akdewe milih
lurah seng berkualitas..” Ferry
yang ikut menambahi omongan alex.
“Tapi menurutku fer, milih
berkualitas kui ora gampang.. opo meneh nek calon e podo wae kabeh..” jawabku.
“Oiyo bener-bener kowe
oz.. angel nek calon e podo ae kabeh.. terus pie kiro-kiro ?” Tanya salah satu teman kami.
Malam semakin larut, tapi ngrempolo semakin seru..
Bersambung..
Oleh : Tuanmuda.
0 Response to "MENYAMBUT LEBARAN, SEKALIGUS PILIHAN KEPALA DESA #3"
Post a Comment