MENYAMBUT LEBARAN, SEKALIGUS PILIHAN KEPALA DESA #2


Sesuai niat yang sebelumnya sudah saya ucapakan, kali ini menjalang beberapa hari menuju ramadhan, saya akan mengumpulkan pemuda-pemuda desa untuk membicarakan terkait usulan Alex waktu itu.

Dalam menjalankan misi ini, saya menggandeng Ferry yang tak lain adalah anak Yai Gatot. Tujuan menggandeng Ferry adalah supaya ada pihak sebagai penyokong dana, mengingat keluarga Ferry yang hidup diatas rata-rata masyarakat kami. Apalagi jika Yai Gatot mengetahui misi ini, pasti beliau akan mendukung sepenuhnya apa yang akan pemuda lakukan.

Pertama-tama saya meminta bantuan Ferry untuk mengundang pemuda desa dalam acara BUBAR atau buka bersama di kediaman Ferry. Itu niat pertama, niat lainnya adalah supaya jika berbuka di rumah Ferry, kami para pemuda dapat berbuka dengan menu yang cukup enak pastinya hehehe.

Yai Gatot yang saat itu diberi tahu Ferry tentang rencana kami, langsung menyatakan dukungan sepenuhnya terhadap misi itu. Bahkan beliau menawarkan, jika membutuhkan dana untuk keperluan-keperluan lainnya, datang saja kerumah dan sebutkan nominalnya. Puji tuhan, semoga ini awal yang baik untuk memulai segalanya.

Pertemuan pertama dengan para pemuda saat BUBAR kala itu, kami tidak langsung membicarakan kedalam hal-hal yang serius. Kami lebih sering membicarakan terkait hal-hal yang berhubunga dengan masa lalu kami, istilah kerennya adalah nostalgia. Maksud dari obrolan itu adalah, mengakrabkan kembali atau menyolidkan kembali para pemuda desa kami, mengingat akhir-akhir ini gerakan pemuda tidak lagi terlihat sebagai suatu kekuatan yang wajib diperhitungkan oleh kaum tua.

Maka langkah awal sebelum memasuki fase berikutnya adalah, memastikan kembali bahwa wadah atau kendaraan yang akan kami gunakan dalam misi perubahan desa yang lebih baik, sudah layak untuk di gunakan, dan kuat dari gempuran-gempuran dari luar.

Setelah pertemuan BUBAR pertama itu, saya, Alex, dan Ferry memetakan terlebih dahulu setiap potensi pemuda desa. Tidak cukup sulit untuk hal ini, sebab antara kami para pemuda desa sudah berteman sejak kecil, jadi sudah cukup paham karakter satu sama lain. Hal yang diperlukan adalah memetakannya supaya lebih rapi dan efisien untuk bergerak kedepannya.

Satu hal yang membuat kami bersemangat menjalankan misi ini, yakni sama-sama menyadari dan merasakan bahwa ada sesuatu yang tidak wajar dalam desa kami, tetapi seolah-olah sesuatu itu bagi sebagian orang di yakini merupakan kebenaran yang sudah seperti itu bentuknya. Namun tidak bagi kami, kami berpikir sebaliknya bahwa sesuatu itu tidak benar demikian, ada yang harus di rubah, bukan untuk membuat kerusuhan atau kerusakan tetapi untuk memperjuangkan perubahan yang lebih baik.

Jika Soekarno dengan 10 pemuda dapat mengguncangkan dunia, masak kami dengan lebih dari 10 pemuda tidak dapat mengguncangkan skala desa. Tentu hal ini cukup memalukan jika sampai terjadi.
Selain mengusahakan wadah pemuda sebagai gerakan untuk control sosial skala desa, kami juga merencanakan gerakan praksis dalam tataran akar rumput. Tentang bagaimana sebuah desa yang selama ini dianggap tertinggal, kuno, bodoh, dan kampungan mampu keluar dari jeratan fragmentasi kehidupan, mampu membuktikan bahwa desa dengan segala potensinya mulai dari pertanian, perkebunan, semangat gotong royong, serta kepedulian yang tinggi terhadap sesama dapat menjadi satu kekuatan penting dalam menyokong keberlanjutan sebuah negara. Dimana potensi-potensi itu jarang dimiliki oleh kehidupan yang mendakwa dirinya sebagai modernisasi.

Tentu kami menyadari, bahwa misi ini tidak hanya membutuhkan waktu sehari, dua hari, sebulan, atau bahkan setahun, tapi membutuhkan waktu panjang yang tidak dapat ditentukan kapan selesainya. Tetapi setidaknya, di momen bulan yang penuh bahagia ini kami dapat membangun langkah awal untuk mengkolektifkan kembali kesadaran yang selama ini muncul dari individu-individ yang belum terwadai, dan menularkan kesadaran-kesadaran itu pada setiap singa yang selama ini terlelap dalam tidurnya.

Kemudian sekitar kurang lebih dua bulan pasca bulan suci ini, kami akan menyambut pesta rakyat dalam pilkades. Di sanalah, langkah pertama baru akan benar-benar kita pijakan. Maka dalam waktu yang singkat ini, akan kami manfaatkan sebaik-baiknya demi perubahan desa yang lebih baik lagi.

Tak terasa saking semangatnya malam itu, kami bertiga ngrempolo atau bahasa gaulnya berdiskusi guna menajamkan gerakan ini hingga terdengar suara oprak dari anak-anak untuk membangunkan warga. Artinya kita sudah memasuki waktu sahur, saya dan Alexpun pamit pulang kerumah untuk sahur dan beristirahat. Eh, tapi tidak tau apakah Alex ikut sahur dan berpuasa atau justru langsung tidur dan tidak berpuasa lagi… @#%$%#%r%$#%^&^%%$%#$@$*&^(^%$

Oleh : Tuanmuda.

0 Response to "MENYAMBUT LEBARAN, SEKALIGUS PILIHAN KEPALA DESA #2"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel