MENYAMBUT LEBARAN DAN PILIHAN KEPALA DESA

“Lex..
wes ape riyoyo iki.. gak kroso wes ape bar yo posone..”
“Iyo
oz.. wess jan sedih aku, wes pe rampung posonane..”
“Dapuranmu
kok kemlinthi sedih-sedih barang.. poso ae jarang melok kok..”
“Lho..
selama aku kuat.. aku melok oz.. tapi nek gak kuat yo wes..”
“Aturane
mbahmu dewe to pie koyo ngunukui..”
“Lho
tenan oz.. sejatine poso kui menahan segala bentuk hawa nafsu, nek mung nahan
mangan ngombe ae kuat aku..”
“Wesss
karepmu lex..”
Siang itu kami sedang memancing di kali, lebaran
semakin dekat namun saya belum juga membeli baju baru layaknya orang-orang,
tetapi tak masalah setidaknya setelah mendengar ceramah Yai Gatot dan Alex kini
saya paham bahwa lebaran bukan masalah baju baru atau tidaknya.
Biasanya, siang-siang seperti itu ikan-ikan pada lapar
dan mudah sekali di pancing, namun tidak pada hari itu. Satu jam berlalu, tak
satupun ikan yang kami dapat, entah mungkin ikan-ikan juga pada sibuk membeli
baju lebaran atau mungkin sibuk membuatr kue, sehingga tak sempat memakan umpan
pancing kami.
Memang mancing membutuhkan kesabaran yang tinggi, akan
tetapi lama-kelamaan jenuh juga menunggu ikan yang tak kunjung datang menyantap
umpan kami. Pasti para pemancing mania jika sudah mengalami hal demikian, pilihannya
hanya ada dua balik ke rumah atau pindah spot pemancingan, tapi kali ini kami
memiliki pilihan ketiga, yaitu tetap istiqomah di spot yang sepi ikannya.
Bukan tanpa sebab pilihan ketiga itu muncul, awalnya
saya mengusulkan untuk pulang atau pindah spot, tetapi Alex menolak dan tetap
ingin stay di situ. Bukan karena spot memancingnya, tetapi karena tawaran
obrolan Alex yang kelihatannya lebih
mengasyikkan, dari pada memancing. Itulah yang membuat saya menyepakati
keinginan Alex tersebut.
Alex mengajak untuk melanjutkan pembahasan yang
bermula dari curhatan kang Jimin di warkop jubin kala itu, kemudian
sempat juga kami lanjutkan di warkop 24 milik Alex, dan kini kami akan
melanjutkannya lagi ditepi sungai.
“Ngene
lho bos.. aku kepikiran iki, rongulan maneh bar poso bakal pilihan lurah to..” ucap Alex.
“Iyo
lex.. lha enek opo ?”
“Kok
enek opo pie to.. iki akdwe sebagai generasi muda, wes wayah e kudu melok mikir
di nggo kemajuan deso..”
“Hehehehe..
yo maksud ku terus akdwe ape opo ?”
“Isek
ileng tragedi Yai Gatot ngamuk karo tinggi nek omah e kang
Jimin ?”
“Yo
jelas ileng to lex..”
Belum jelas arah pembicaraan Alex bakal kemana,
terlalu banyak basa basi padahal juga tanpa basa udah basi. Tetapi saya
menangkap sinyal dari omongan tersebut, bakal ada ide kejutan pada pilkades
nanti.
“Lha..
aku mikir ngene bos, tak angen-angen maksud Yai wingi kae, nyambung karo seng
tak ceramahno karo kowe wingi-wingi kae..”
“Maksudmu
ki pie to cok.. mbulet ae koyo politikus, to the point ngunu lho..” jawabku kesal pada Alex.
“Pelajaran
bahasa indonesia gak lulus mesti kowe oz.. kabeh ki enek jeneng e pembukaan,
pendahuluan, isi, lain-lain terus penutup.. dadi aku iki lagek tok pendahuluan,
wingi kae pembukaan goblokkkkk..”
“Cokkk..
kesuwen wkwkwk..”
“Wkwkwk..
aku sakiki paham oz maksud e Yai, meskio wingi akdwe yakin maksude Yai bener,
tapi kan rung paham.. sakiki aku wes paham iki..”
“Iyo
piee Lexxxx.. sue tenan kowe ki..”
“Ngene
oz.. akdewe kudu nduwe ide opo usulan dinggo piihan lurah sesok.. pokok e pie
carane, pilihan lurah sesok iki berkualitas..”
“Wess
mboh sesok ae terusno neh.. pegel aku ngrungokno kowe gak ndang bar.. ngantuk
aku.. ayo muleh..”
Karena saya sudah dapat pointnnya tentang apa yang
ingin Alex bicarakan, saya segera mengajaknya pulang. Sebab saya paham, obrolan
ini bakal membutuhkan banyak pikiran, jika dibicarakan saat siang hari dan
kondisi perut lapar, pasti tidak akan efisien.
Setelah ini, saya berniat untuk mengumpulkan para
pemuda-pemuda yang lain untuk mmebicarakan apa yang alex fikirkan, semakin
banyak orang dan pendukung pasti usulan kita nanti akan semakin di dengar oleh
para petinggi-petinggi desa, terlebih jika usulan itu atas nama revolusi pemuda
desa.
Bersambung…
0 Response to "MENYAMBUT LEBARAN DAN PILIHAN KEPALA DESA"
Post a Comment