SINAU KARO ALEX


6 Hari menjelang lebaran, orang-orang semakin ramai menyiapkan segalanya. Membersihkan rumah, membuat jajanan, memesan kue lebaran, dan tak kalah pentingnya berburu baju baru. Sanak saudara yang merantau keluar, mulai berdatangan ke kampung halaman, dan itu membuat suasana kampung makin ramai.
sinau karo alex 
Orang-orang yang merantau ke berbagai tempat, kini pulang ke kampung asalnya, tukar pengalamanpun tak terelakkan, mulai dari yang merantau menjadi kuli bangunan, ada juga yang menjadi penjaga rumah makan, ada juga yang menjadi tukang rosokan ibu kota, bahkan ada yang pernah menjadi ABK bertahun-tahun lamanya kini pulang kembali ke desa.

Kebetulan malam itu Alex sedang jaga warungnya, sebab saya merasa membutuhkan teman yang sepaham dan sepemikiran, saya putuskan untuk menunaikan ibadah ngopi malam itu di warungnya Alex, mana lagi kalau bukan warkop 24.

Seperti biasa, warkop 24 selalu ramai dipenuhi anak-anak muda, padahal tempatnya biasa-biasa saja, tetapi karena posisinya yang strategis berada di tengah desa warkop ini jadi ramai oleh anak muda. Bukan karena di tengah desanya, tetapi di depan warkop inilah satu-satunya akses menuju jalan raya dan ini yang menjadi daya tarik bagi kaum muda, sebab di jalur depan warkop ini selalu ramai di lewati oleh kaum wanita. Selain warkop 24, mereka juga menyebutnya warkop cuci mata.

Nampaknya mbah Jo malam itu aman-aman saja, tidak seperti biasanya yang tiap kali saya datang ke warkop 24, mbah Jo selalu ngoceh tak jelas. Kali ini dia hanya diam santai menikmati kopi dan rokok klobotnya.

“Lho oz.. wes sue to..?” Tanya Alex.

“Durung lagek teko.. rung pesen bereng aku.. teko ndi awakmu lex ?”

“Bar golek gulo.. entek je gulone…”

Memang sewaktu saya datang, Alex tidak kelihatan batang hidungnya di warung, hanya ada ibuknya yang sedang membuat gorengan untuk dijual. Karena saya merasa tidak terburu-buru, saya tidak langsung menanyakan kebradaan Alex pada ibuknya, tak berselang lama Alex muncul juga, ternyata habis membli gula di toko sembako pak Haji.

“Pesen opo oz..?”

“Yo jelas kopi to.. kok isek takok ki lho..”

“Hehe.. aku tak mangan sek, enek ketan kae gelem po ra ? nek gelem ayo nek ngguri..”

“O iyo.. kae aku gawe ketan, menggurio kono le nek gelem..” imbuh ibuknya Alex yang ikut menawarkan ketan padaku.

“Nggeh buk.. hehe” jawabku.

Jika ditarik silsilah keluarganya, neneknya mbah Jo dulu adalah saudara dari neneknya nenek mamakku, dan hal itu belum lama saya ketahui. Jadi kesimpulannya, ternyata saya dan Alex selama ini masih ada ikatan keluarga, meski sudah jauh. Pantas saja, ibuknya Alex sudah menganggapku seperti anak sendiri ketika dirumahnya, seperti menawarkan ketan yang langsung di suruh ambil sendiri ini contohnya.

“Deso dadi rame iki lex.. podo muleh kabeh wong-wong..”

“Iyo jere oz, aku yo krungu jere mas Men seng nek pelayaran kae yo muleh.. halah jelas rame pol nek iki oz..”

“Iyo, mas Men yo muleh.. mau aku werung wong e jandoman ngarep langgar.. tukar pengalaman karo wong-wong liane..”

“We melok jandoman e ? ngomong opo podonan wong-wong ?”

“Biasa.. ngomong kerjonan seng ngene, seng ngono, intine sambat kabeh mergo negoro ra jelas, gaji ora UMR, ceperan gak enek, podo ngoroso gak diperhatekno negoro jare..”

“Lha iki oz iki.. nek bahas negoro, aku isek nduwe lanjutan tentang curhatane kang Jimin nek jubin kae..”

Bau-baunya, malam ini saya akan mendengar sabda Alex lagi. Meskipun sedikit keblinger, tapi akhir-akhir ini apa yang di katakan Alex banyak benarnya, mungkin ini yang dikatakan jangan lihat siapa yang bicara, tapi lihatlah apa yang dibicarakan.

“Opo lex ? Pie lanjutane ?” Tanyaku untuk meminta Alex menjelaskan.

“Ngene oz.. nek kowe ngrungokno ceramahku nek jubin kae, mesti kowe mikir negoro salah to ? negoro tidak bener, menyengsarakan rakyatnya ? yo po ra ?”

“Yo iyo.. tapi biasa ae nek ngomong, ngunu kok mbok sebut ceramah… gaaathel jaran to pie..”

“Wkwkwk.. ngene oz, awakmu kleru.. negoro ora pernah salah, ora pernah menyengsarakan rakyat e..”

“Jare sopo ? keminter kowe lex..”

“Lho tenan, kowe kudu iso mbedakno negoro karo petugas penyelenggara kekuasaan negoro..”
“Pie kui maksud e lex ?”

“Ngene lee muridku.. tak jelasno, negoro Indonesia kui, isine berdasarkan pancasila, undang-undang 45, lan semboyane Bhineka Tunggal Ika, tegese berbeda-beda tapi tetap satu.. ngunu lee muridku..”

Jaancokk.. dalam hati saya katakan, memang benar kelihatannya, yai Gatot kini menurun ke Alex. Persis, sama-sama tidak menempuh pendidikan formal sampai jenjang yang tinggi, sama-sama pernah menjadi orang nakal, dan kini sama-sama bisa memberi pelajaran ilmu kenegaraan, yang tidak pernah di ajarkan di bangku sekolahan. Jancok Alex.

 “Sek to.. sek to.. rasah kemlinti ngomong murid jiangkrik kowe lex.. sek, terus sakiki hubungane karo curhatane perantau karo kang Jimin opo ?”

“Sabar muridku.. tentremono atimu kabeh mesti ono dalane.. ha.. ha.. ha..” Jawab Alex sambil berbicara layaknya seorang dalang disebuah perwayangan.

“Cokk.. koyo dalang ae…”

“wkwkwk.. ngene lho oz maksudku, kowe salah nek mikir negoro seng gawe sengsoro rakyat e, seng bener kui, seng gawe sengsoro rakyat e yokui poro petugas kekuasaane negoro, seng senengane ndelok rakyat e miskin iso di nggo alat kampanye, seng petugas kekuasaan kui mau ilmune ora nyandak opo durung nyandak masalah babagan negoro, durung mampu menjalankan amanat rakyat, menjalankan undang-undang dasar 45, akhire pas nduwe kekuasaan mlakune salah kaprahhh… ngunu..”

“Ooooo ngunu to lex..”

“Lha yo ngunu.. bedakan antarane negoro karo petugas kekuasaan negoro.. goblok kok di pupuk to oz.. oz.. wes ndang ayo mengarep tak gawekno kopi, ape tambah ketan yo wes ntek ketrane..”

Saya percaya roda itu berputar, dulu saya yang sering memberi pelajaran kepada Alex, tapi kini kita tukar posisi, Alex yang memberi pelajaran pada saya.


Oleh : Tuanmuda

0 Response to "SINAU KARO ALEX"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel