KATROK.


Meski jauh daerah perkotaan, meski jauh dari hiruk pikuk dunia, meski jauh dari yang namanya mall, meski handphone masih merupakan barang mewah, dan meski kita cukup katrok menggunakannya, tetapi percayalah soal cinta kita tak kalah romantisnya dengan anak kota.

Di kampungku, setiap kali datangnya bulan ramadhan kita selalu senang dan bahagia. Seperti diawal dibahas, bukan senang dan bahagia karena datangnya ramadhan, tetapi senang karena bisa melakukan lebih banyak sesuatu dengan bersama-sama. Mulai dari terbitnya matahari, hingga terbenamnya matahari kembali, banyak hal yang bisa dilakukan bersama, dan banyak hal lain lagi yang bisa dilakukan saat malam hari tiba hingga menjelang sahur.

Saat ramadhan, rumah hanya seperti tempat singgah untuk mandi, sahur, berbuka, dan istirahat. banyak aktivitas yang dilakukan di luar dari pada di dalam rumah, contohnya adalah melakukan jalan-jalan ba’da subuh. Aktivitas ini kita tunaikan secara khusyuk layaknya sholat lima waktu sehari, cuman bedanya ini sehari sekali terkadang dua kali pagi dan sore selama 30 hari. Setelah menunaikan subuh berjamaah di mushola, kita akan bergegas menuju yang namanya jembatan atau biasa kita sebut brok.

Sebelum menunaikan aktivitas jalan-jalan, di brok inilah titik dimana biasanya kita berkumpul. Jika sudah dipastikan yang ingin menunaikan aktivitas ini berkumpul semua, kita akan segera berjalan-jalan di rute biasa, bukan stadion yang memiliki jalur khusus untuk jogging, bukan pula lapangan khusus untuk lomba lari, melainkan rute biasa itu adalah jalan raya pohwates-kedungadem. Namanya saja jalan raya, tentu saja banyak motor, mobil, truk sayur dan kendaraan lainnya lalu lalang di sana, dan tentu saja bahaya kecelakaan dapat terjadi setiap saat tanpa kita ketahui sebelumnya.

Anehnya, setiap kali orang tua mengingatkan untuk tidak pergi, kita selalu melakukan pembelaan untuk aktifitas ini. Alasannya simpel saja, “Wong olahraga, ben awak e sehat mosok gak oleh to pak, buk”. Disinilah point kita satu sama dengan para tetua, jika di awal kita merasa di kibuli untuk membersihkan mushola, sekarang kita melakukan serangan balik dengan mengibulinya melalui dalil olahraga biar sehat. Maka kedudukan saat ini jika ibarat sepak bola, skornya imbang 1-1.

Saat itu, cinta hanya tumbuh melalui tatapan mata, diteruskan ke hati dengan perasaan saling percaya, kemudian bersemi melalui komunikasi telepati rasa. Tak kalah romantis bukan, dengan cinta ala anak kota yang tumbuh lewat perantara teman-temannya, diteruskan ke hati bukan karena saling percaya melainkan berapa banyak harta yang ia punya, lalu bersemi dengan handphone dan bunga sebagai wujud cintanya. Ah tai sekali anda.

Saat melakukan aktifitas ini, seseorang yang menjalin asmara dengan kekasihnya, ia tidak tahu apakah akan bertemu di saat jalan-jalan nanti atau tidak. Tetapi hanya bermodal percaya, mereka bisa bertemu di sana, dan ketika sudah bertemu, mungkin dunia serasa hanya milik mereka berdua.

Sepasang kekasih tersebut akan berjalan berdampingan, terkadang bergandeng tangan, juga terkadang berjalan dengan posisi si cwe di depan dan si cwo di belakang, dengan harapan cwo bisa melindungi ketika hal buruk terjadi.

Tetapi bagi saya, meski tak kalah romantisnya dengan anak kota, ini adalah sesuatu yang tak masuk akal, bagaimana bisa si cwo akan melindungi cwenya jika hal buruk itu terjadi, misalnya ketabrak truck sayur dari belakang, namanya juga jalan raya, hal ini sangat mungkin terjadi.

Jauh dari itu, inilah bahayanya jika sesuatu kebenaran hanya disampaikan melalui hegemoni, seperti menyambut datangnya bulan ramadhan yang dibahas di awal. Ritualitas puasa bukan hanya sekedar menahan makan minum & menahan hawa nafsu secara tekstual, tetapi apa nilainya jika makan, minum, hawa nafsu di kontekskan dalam kehidupan sehrai-hari, merokok misalnya, ia tidak makan apalagi minum, apakah merokok dilarang saat berpuasa ?. Bertatap mata, bergandeng tangan yang bukan muhrim juga sebagian dari hawa nafsu. Ini adalah contoh kegagalan jika suatu kebenaran disampaikan melalui paksaan, ia akan lebih sejuk jika disampaikan dengan kelembutan serta penjelasan-penjelasan yang dapat dierima oleh banyak orang.

Kemudian muncullah pertanyaan :
“Lalu apakah puasa anak-anak itu akan diterima ya ustadz ?”

Dengan gagah saya akan jawab :
“Saya tidak tahu ya muridku, masalah menentukan segala sesuatu itu wilayah Tuhan, bukan manusia”

oleh : Tuanmuda

0 Response to "KATROK."

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel