YANG PINTAR ITU KYAI, YANG BODOH ITU SAYA
Sebagai tokoh masyarakat, kehadiran Kyai di desa-desa
sangat di hormati. Begitupun di desa kami, tak jarang untuk segala persoalan
selalu kami konsultasikan kepadanya, termasuk masalah jodoh, masalah gagal
panen, masalah hujan yang tak kunjung turun. Simpelnya kehadiran seorang Kyai,
seolah menjadi kiblat pencerahan bagi segala persoalan. Sehingga wajar Kyai
selalu dicirikan sebagai sosok yang pintar, begitu juga media dalam
membrandingnya.
Sebagai seorang kyai dengan strata sosial yang lebih
tinggi dari warga lainnya, seluruh urusan agama kita percayakan kepadanya.
Sampai-sampai kepercayaan masyarakat kepada instansi pendidikan yang kental
dengan ajaran agamanya, seperti Madrasah Ibtidaiyah, Madrasah Tsnawiyah,
Madrasah Aliyah tidak lebih besar ketimbang kepercayaannya terhadap Kyai dalam
hal pembelajaran agama.
Maka jadilah ia sebagai guru ngaji di sebuah TPA,
bukan hanya ngaji al-qur'an tetapi juga kitab kuningpun anak-anak di ajari
olehnya. Terlebih dalam lingkungan kami, jika anak seusia SD tidak bisa mampu
membaca al-qur'an dengan lancar, itu merupakan suatu aib bagi keluarga, lantas
sudah menjadi hal yang lazim di lingkungan kami jika anak-anak SD sudah mampu
membaca Al-Qur'an dengan lancar. Semua itu berkat jasa pak Kyai.
Seperti biasa, setelah menjalankan sholat tarawih di
mushola, kami langsung melaksanakan tadarus al-qur'an hingga larut malam.
Biasanya jika di jam-jam awal sampai sekitar pukul 22.00, tadarus di lakukan
oleh anak-anak muda dan setelah itu dilanjutkan oleh orang-orang tua, sedangkan
anak-anak akan pergi bermain atau nongkrong di warung kopi.
Pada suatu malam, entah mengapa tidak ada orang tua
satupun yang datang ke mushola untuk melanjutkan tadarus al-qur'an, padahal
waktu menunjukkan pukul 22.25 WIB. Dari pada mushola sepi tanpa lantunan ayat
al-qur'an, terpaksalah kita anak-anak muda yg melanjutkan tadarus hingga larut
malam.
Pukul 23.20 atau sekitar setengah 12an malam, lewat
seorang pemuda dengan sepedah motornya yang menggunakan knalpot blombongan.
Ia berhenti di depan mushola kami, kemudian ramai-ramai kami keluar menuju
mushola untuk melihat situasi di luar sana.
Ternyata setelah kami cek, pemuda tersebut adalah
Bagio yg tentu kita kenal akrab dengannya, bau alkohol di baju serta nafasnya
dapat kami pastikan Bagio ini sedang berada di bawah kendali miras. Dan
ternyata benar saja, Bagio datang kesini untuk mencari seorang yang bernama
Karyo.
Setelah kita telurusi, Bagio memilik sedikit masalah
yang belum selesai dengan Karyo, motif dibelakangnya adalah selisih paham. Tak
terima dengan perilaku Karyo, Bagiopun yang sedang di bawah kendali Miras
merasa ingin segera menemui Karyo dan menyelesaikan masalahnya secara jantan.
Sebab orang yang di cari Bagio tidak ada, dia
memutuskan untuk tidur di mushola malam itu. Jika ia pulang, ia takut kena omel
orang tuanya andai ketahuan habis minum minuman keras, karena kita merasa
kasihan dengan Bagio maka kami putuskan untuk menemainya tidur di mushola malam
itu, terdapat sekitar 7 anak yang tidur disana.
Pada saat menjelang sahur, Bagio mengalami
muntah-muntah yang begitu hebat di dalam mushola. Akhirnya kita dengan sigap
membantunya, kemudian membersihkan muntahnya dan mengantarkan ia pulang agar
bisa ikut sahur bersama dengan keluarganya.
Ke esokan harinya, entah tahu dari mana pak Kyai
mengetahui kejadian malam itu, padahal tidak ada cctv di mushola. Kejadian itu
membuat pak Kyai marah besar dan menggemparkan satu kampung.
"Biadab, sakiki pel langgar e sampek resik,
pel nganggo kembang pitung rupo" perintah pak kyai pada kami anak-anak
muda.
Dalam menyikapi masalah ini, pak Kyai terus
mengutamakan emosinya, hingga berhari-hari pak Kyai selalu menebar bumbu-bumbu
tidak sedap kepada seluruh warganya. Mulai dari saat kumpulan rt, jagongan, pak
Kyai terus menebar bumbu-bumbu itu.
Hingga berminggu-minggu persoalan itu tak kunjung
selesai, malah semakin mengucilkan dan menghinakan Bagio dan keluarganya.
Dalam satu kesempatan bersama alex, saya mencoba
membahas masalah ini sedikit lebih jernih menggunakan kepala dingin.
"Lex, pak Kyai ki jane wong pinter ora to ?”
Tanyaku sedikit aneh ke alex.
Sontak alex menjawab "Gendeng awakmu iku, jeneng e ae Kyai yo ws jelas pinter cok"
"Mosok gak enek Kyai seng goblok lex ?" Tanyaku kembali ke alex.
"Lho tambah goblok arek iki, cak neng ndi-ndi iku seng jeneng e Kyai ws mesti pinter gak enek ceritane kyai iku goblok" Jawab alex semakin kesal.
"Sek to lex, ngene lho maksud ku.. Nek pancen pak Kyai iku pinter, laopo lho ngebarno masalah wingi kae nganggo kata-kata seng gak tepak belas, di tambah neng ndi-ndi njerok-njerok no masalah neh, jere seng ngene seng ngono, akhire masalah malah gak rampung tapi malah mbulet to lex" terangku kepada alex yang sedikit ngotot.
"Yo wes mboh, nk tak pikir jane omongmu yo enek bener e, tapi ndak kuat utekku, pokok e pak Kyai iku pinter ngono ae wes" Jawaban alex dengan pasrah terhadap keadaan.
"Raimu iku pokok e pokok e, wong kok gak wani miker seng lwih jembar lex alex, urip kok anane pasrah ae" tak kalah dengan alex, jawabku sama ngototnya.
Sontak alex menjawab "Gendeng awakmu iku, jeneng e ae Kyai yo ws jelas pinter cok"
"Mosok gak enek Kyai seng goblok lex ?" Tanyaku kembali ke alex.
"Lho tambah goblok arek iki, cak neng ndi-ndi iku seng jeneng e Kyai ws mesti pinter gak enek ceritane kyai iku goblok" Jawab alex semakin kesal.
"Sek to lex, ngene lho maksud ku.. Nek pancen pak Kyai iku pinter, laopo lho ngebarno masalah wingi kae nganggo kata-kata seng gak tepak belas, di tambah neng ndi-ndi njerok-njerok no masalah neh, jere seng ngene seng ngono, akhire masalah malah gak rampung tapi malah mbulet to lex" terangku kepada alex yang sedikit ngotot.
"Yo wes mboh, nk tak pikir jane omongmu yo enek bener e, tapi ndak kuat utekku, pokok e pak Kyai iku pinter ngono ae wes" Jawaban alex dengan pasrah terhadap keadaan.
"Raimu iku pokok e pokok e, wong kok gak wani miker seng lwih jembar lex alex, urip kok anane pasrah ae" tak kalah dengan alex, jawabku sama ngototnya.
Seiring berjalannya waktu, masalah itu hilang dengan
sendirinya, dan saya masih mempertanyakan apa benar pak Kyai itu pintar semua,
tidak ada yg tidak pintar. Jika memang demikian, harusnya Kyai waktu itu
menyelesaikan masalah di mushola secara bijak, tidak sedemikian rupa.
Selang berapa tahun kemudian, di sebuah masjid yg
terletak jauh dari desa kami. Di gemparkan dengan kasus asusila seorang pemuda
pemudi tingkat SMA. Tindakan itu dilakukan di dalam masjid, di ruangan sang
imam. Ternyata pemuda yang melakukan asusila tersebut adalah anak dari Kyai di
kampung kami, yg di anggap sebagai kiblat pencerahan.
Akibat tindakan itu, Kyai dan keluarganya pun merasa
sangat malu, dan untuk keluar rumahpun sangat jarang dilakukan. Bahkan di
beberapa kali kesempatan, tugas Imam di serahkan ke warga lainnya.
Setelah kejadian itu, sesegera mungkin saya temui alex
di rumahnya.
"Pie cok, iseh percoyo nek kabeh kyai iku
pinter ? Nek kyai iku pinter, mestine iso ndidik anak e seng bener, ora malah
keblinger wkwkwk" tanyaku kepada alex tanpa basa basi lagi.
"Hehehe yo ws mboh nk ngunu cak, aku yo tak
sinau meneh sakiki, pancen akeh Kyai iku pinter tapi gak kabeh kyai iku pinter
hehehe" jawab alex dengan cengengas cengenges.
Tetapi bagaimanapun juga, pak Kyai harus di anggap
sebagai orang pintar, sebab jika memiliki Kyai yang tidak pintar tentu sebagai
warganya juga akan ikut menanggung rasa malu itu. Jadi memang Kyai itu harus
pintar yang bodoh saya, meski ini harus di koreksi lagi.
Mungkin ibarat negara, pejabat itu harus kaya yang
miskin rakyatnya, kalau pejabat miskin nanti malu-maluin saat rapat seluruh
negara sedunia. Dan jika kebalik pejabat yang miskin rakyat yang kaya, mungkin
bukan Indonesia namanya. Mungkin lho ya..
oleh : Tuanmuda.
0 Response to "YANG PINTAR ITU KYAI, YANG BODOH ITU SAYA"
Post a Comment