PAIDI TANPA TITEL SARJANA
Paidi namanya, seorang pemuda kampung yang belum
berkeluarga pada usia kepala tiga. Ia berasal dari keluarga yang cukup
sederhana, semenjak kecil hanya hidup bersama ibunya, ayahnya seorang musisi
jalanan meninggal di saat Paidi masih berada dalam kandungan.
Hanya bermodal sepetak tanah, keluarga ini
menggantungkan seluruh hidupnya, bahkan untuk biaya sekolah, hasil pertanian
tersebut tak cukup mampu untuk membayarnya, hal itu memaksa ibu Paidi mencari
pekerjaan tambahan guna mencukupi kebutuhan biaya sekolah anaknya. Tak jarang
pekerjaan tambahan yang ia dapatkan tersebut, merupakan pekerjaan-pekrjaan
kasar yang lazimnya di lakukan oleh para kaum laki-laki, seperti kuli bangunan
misalnya.
Karena merasa biaya sekolah terlalu mahal dan tak lagi
terjangkau, Paidi memutuskan tidak melanjutkan jenjang pendidikannya ke tingkat
SMA. Artinya ia tidak memiliki ijazah setingkat SMA apalagi sarjana, melainkan
hanya ijzah SMP yang ia miliki.
Bermodal dengan ijazah SMP itulah, Paidi memutuskan
mengadu nasib ke kota, mencari peruntungan dengan harapan bisa hidup lebih baik
untuk ia dan ibunya. Berbagai kerjaan di kota Paidi jalani, mulai dari tukang
sapu jalanan, kuli bangunan, kuli panggul dipasar, hingga pelayan di sebuah
rumah makan.
Paidi membayangkan alangkah indah dan enaknya jika ia bisa
pekerja di perkantoran, dengan fasilitas ruangan ber ac, terhindar dari terik
matahari, terhindar dari kontak langsung dengan debu jalanan, ah pasti
nikmatnya, dan ia pasti bisa hidup lebih baik dari saat itu. Tetapi apalah
daya, hanya ijazah SMP di tangan, ia hanya bisa sekedar membayangkan.
Suatu hari, Paidi memutuskan untuk pulang kampung, sesampainya
dikampung ia berharap bisa lebih menenangkan pikirannya setelah bertahun-tahun
dipacu begitu keras oleh roda kehidupan. Tetapi ternyata hal baikpun belum
mengiringi langkahnya. Masalah datang kembali setelah ia menjadi bahan gosip
masyarakat, sebab setelah bekerja bertahun-tahun ia hanya mampu membangun
sebuah kamar mandi dan toilet kecil dirumahnya.
Bersyukur Paidi mempunyai seorang ibu yang memiliki hati
sekuat baja, ia tidak gentar mendengar celotehan warga tentang apa yang dialami
oleh anaknya tersebut. Berbeda halnya dengan Paidi, seorang pemuda yang
semangatnya mudah terbakar, ia merasa kesal dengan apa yang di gosipkan oleh
warga sekitar, maka ia bersumpah serapah untuk membuktikan bahwa ia dan ibunya
mampu hidup lebih baik suatu saat nanti.
Setelah lebaran usai, Paidipun berpamit kepada ibunya
untuk menlanjutkan mengadu nasib ke kota. Di kota D tersebut, bermodal ijazah
SMP beserta kegemarannya mengeolah sesuatu yang tidak berguna menjadi sesutau
yang bernilai guna, Paidi mencoba peruntungan melamar pekerjaan di sebuah
perusahaan yang mengolah kayu, sampah plastik dan lain-lain menjadi sesuatu
yang bernilai seni dan dijual dengan harga fantastis.
Tetapi apa yang ia dapat justru sangat menyakitkan,
lamarannya di tolak secara mentah-mentah hanya karena ia tamatan SMP, petugas
mengatakan bahwa perusahaan tersebut memang membuka lowongan, tetapi syaratnya
minimal ijazah SMA atau sedrajat. Paidi yang hanya memiliki ijazah SMP di nilai
tak cukup mampu mendapatkan posisi di perusahaan itu, padahal jika berbicara
soal keahlihan Paidi cukup bisa jika di sandingkan dengan sarjana.
Sembari jalan pulang menuju kos-kosannya yang hanya
muat untuk satu orang tersebut, Paidi menggrutu dalam hati :
“Jancuk tenan, skilku iku ndek dunia
kreatifitas wani di adu, tapi dorong opo-opo aku di kalahne mergo ijazah,
deloken sesok nek aku sukses tak tuku perusahaanmu”
Seolah sumbar yang kedua kalinya ini adalah doa, yang
kebetulan malaikat lewat dan di amini olehnya. Setelah banting tulang sekian
lamanya paidi kembali pulang dengan membawa pundi-pundi rupiah, tidak lantas ia
membeli rumah mewah atau mobil mewah tetapi Paidi bertekad membuka bisnis di
dunia seni dan kreatifitas.
Bermodal kemampuannya dalam bidang itu, dengan
ditambah pundi-pundi rupiah yang ia kumpulkan sewaktu merantau dulu, kini Paidi
menjadi seorang pembisnis kaya. Bahkan bisnisnya mampu disejajarkan dengan
perusahaan yang dulu pernah menolak Paidi untuk bekerja di sana.
Memang begitulah manusia, dengan arogansi dan tanpa di
sadari ia mendakwa diri layaknya Tuhan yang seolah-olah tahu segalanya, padahal
ia hanya baru bisa melihat secara materialistik saja. Jancuk.
*Di angkat dari kisah nyata, seorang pemuda yang
berasal jauh di pelosok Provinsi Jawa Timur.
Oleh : Tuanmuda.
0 Response to "PAIDI TANPA TITEL SARJANA"
Post a Comment