MBAH JO VETERAN KEMERDEKAAN


Oleh : Tuanmuda.
Dhek jaman berjuang//Njur kelingan anak lanang//Mbiyen tak openi//Ning saiki ono ngendi
Jarene wis menang
//Keturutan sing digadhang//Mbiyen ninggal janji//Ning saiki opo lali
Neng nggunung
//Tak cadhongi sego jagung//Yen mendhung//Tak silihi caping nggunung
Sukur biso nyawang
//Nggunung deso dadi rejo//Bene ora ilang//Nggone podho loro lopo

Seperti biasa, mbah Jo di usianya yang kata orang-orang sudah berbau tanah, kalau tidak nembang ya ndrememeng tak jelas. Begitupun saat saya ngopi di warkop 24, baru masuk warung belum sempat memesan apa-apa sudah mendengar tembang Caping Gunung di atas ala mbah Jo, dengan suaranya yang khas serak-serak basah. Menurut cerita, mbah Jo yang kebetulan kakeknya alex adalah mantan veteran kemerdekaan.

Sambil becanda saya teriak kepada mbah Jo “Asyik mbah… lanjuttt”.

Alex cucu semata wayang mbah Jo, yang kebetulan waktu itu sedang bertugas menjaga warung ibunya, segera nyahut setelah saya berteriak.

Menengo lho oz, atai-ati kowe mbahku ngono bekas veteran, sembrono iso disikat molak malek modyar kowe, wes arep pesen opo ?”

“Penak tenan lex suarane mbahmu dadi pengen turu aku hahaha.. kopi pahit siji lex” jawabku.

Tembang Caping Gunung yang dinyanyikan oleh mbah Jo diatas, merupakan tembang yang di ciptakan oleh (Alm. Gesang). Sebagian orang menafsirkan bahwa, tembang ini merupakan ekspresi kekecewaan wong cilik atas apa yang terjadi dengan kondisi bangsa hari ini.

Wong cilik dalam tembang tersebut, di gambarkan dengan masyarakat desa atau pedesaan yang hidup di daerah pegununugan. Dalam potongan liriknya ”…Neng nggunung//Tak cadhongi sego jagung//Yen mendhung//Tak silihi caping nggunung…”, seolah menggambaran kondisi masyarakat desa, yang akrab dengan makanan nasi jagung, dan menggunakan caping gunung.

Kekecewan dalam tembang ini sebab melihat adanya ketimpangan sosial, dan lebih parah lagi ketimpangan itu seakan membentuk sekat antara kota dan desa, kota yang di identikkan dengan kemajuan dan desa di identikkan dengan ketertinggalan. Setidaknya, di jaman penjajahan atau jaman perjuangan kemerdekaan sepenuhnya masyrakat desa dengan ikhlas membantu bergerilya melawan penjajah, menyumbangkan seluruh apa yang ia miliki, harta, pakaian, tempat tinggal bahkan nyawa sekalipun.

Semua itu dikorbankan demi terwujudnya cita-cita luhur kemerdekaan bangsa, dengan harapan ketika merdeka kehidupan anak cucu bisa lebih baik, tetapi semua harapan itu sirna seiring berjalannya waktu. Pasca merdeka, masyarakat desa masih banyak yang menderita, tidak mampu membiayai sekolah anak-anaknya, petani-petani tetap termarginalkan.

Jam menunjukkan pukul 23.57, kondisi sekitar semakin sepi, di warung hanya tinggal aku dan alex, terdengar sayu-sayu dari jauh lantunan ayat suci Al-qur’an, menandakan masih ada kegiatan tadarus bulan ramadhan. Tiba-tiba 5 menit kemudian, mbah Jo teriak-teriak sendiri di kamarnya.

Wes.. ngeneki matane podo picek kabeh, bien aku sak kanca-kancaku tak ewangi melok latihan melayu, push up, jempalikan sampek udu nyowo, karepe ben anak putu sak piturunku kabeh urep penak, opo-opo penak.. bareng wes merdeko kok putu-putu lan sak pituurne kanca-kancaku seng mati jare mangan podo kangelan, sekolah podo gak kuat mbayar.. iki jane merdeko model piye to..

Mbahmu laopo kae lek, kesurupan ojo-ojo ?” tanyaku pada Alex.

“lho to, cangkemmu kulino nk ngomong gak di pikir sek.. kesurupan raimu kui, wes ndang ayo di tiliki mbahku” Jawab alex dengan sedikit kesal.

Meski usia mbah Jo sudah jauh dari kata muda, tetapi masih bisa di ajak komunikasi dengan mudah, meskipun kadang suka ngelantur seperti biasa. Melihat perawakan tubuh yang cukup tegap, dan diusianya yang rentan masih bisa berjalan dengan lancar, tanpa membungkuk tanpa batuan teken atau tongkat saya mulai bertanya-tanya, siapa sebenarnya mbah Jo di masa mudanya ?

Rasa penasaran itu semakin menjadi-jadi, ketika mendengarkan isi khotbahnya tadi dan di tambah kegemarannya menyanyikan lagu Caping Gunung, yang makna filosofisnya seperti dijelaskan di atas. Meski makna itu entah benar atau tidak, tetapi ada sebagian yang meyakini kebenaran makna di atas tersebut. Lantas saya mulai berpikir apakah benar mbah Jo adalah bekas veteran kemerdekaan ?

Sesampainya di kamar mbah Jo, saya langsung menanyakan.

enek opo to mbah ? pun wengi niki ojo mbengok-mbengok lho”

“Pie to le, ben wayah-wayah turu ku gak penak, rasane opo seng bien jaman sak mono tak lakoni sak iki sio-sio, opo meneh krungu critone paidi, gak iso sekolah mergo gak kuat mbayar, di ewangi tibo tangi mlayu neng kuto ben uripe iso penak.. durung meneh ndelok petani-petani seng isek sambat ae mergo rego-rego pupuk larang.. delok en kae bapakmu lek alex macul raroh wayah, tapi keluargamu yo isek ngene ae.. duh gustiii, iki jane negoro merdeko seng model pie ngeneki” Jawab mbah Jo.

Mendengar jawaban tersebut, saya dan Alex tidak bisa bicara apa-apa. Mungkin memang benar bahwa mbah Jo adalah bekas veteran kemerdekaan, yang waktu itu berharap pasca merdeka kehidupan seluruh rakyat Indonesia bisa lebih baik dari hari itu.

Jika kita mempercayai makna tembang Caping Gunung seperti halnya diatas, maka dalam situasi seperti ini tembang itu masih sangat relevan untuk di nyanyikan. Angka pengangguran di desa semakin tinggi, biaya pendidikan semakin tinggi dan terjangkau sehingga banyak anak-anak putus sekolah, fenomena hijrah masyarakat desa ke kota semakin marak terjadi. Hijrah dilakukan atas faktor kehidupan di desa yang tak bisa lagi di harapkan. Dan akhirnya desa semakin jauh tertinggal dibelakang.


Oleh : Tuanmuda.

0 Response to "MBAH JO VETERAN KEMERDEKAAN"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel