MALING… MALING… MALING… !!

Di saat menjelang lebaran, penjagaan keamanan desa lebih diketatkan lagi. Biasanya hal itu dilakukan pada 10 hari terakhir puasa atau 10 hari menjelang lebaran, penjadwalan ronda di tambah personilnya dan di bagi di beberapa titik, karena akses masuk desa kami terdapat banyak titik maka setiap titik di isi oleh 2-3 orang supaya titik yang lain juga terisi. Perketat jaga desa atau biasa kami sebut pergada sudah rutin dilakukan sejak 5 tahun terakhir.

Maling

Pergada kami lakukan bukan tanpa sebab, pasalnya sebelum adanya pergada desa-desa di daerah kami rawan terhadap tindakan pencurian. Kebanyakan motif dari pencurian tersebut adalah, kebutuhan ekonomi menjelang lebaran, dimana harga-harga pangan naik tetapi pemasukan justru malah berkurang, akhirnya tindakan-tindakan nekat itupun banyak terjadi.

Bahkan meski sudah dibentuk pergada , desa kami masih sempat kemalingan. Dan yang di malingnya mungkin bagi sebagian orang hanyalah barang spele, tetapi bagi kaum kelas bawah itu adalah barang mewah.

Kebetulan tahun ini saya mendapat jadwal bersamaan dengan alex, kang Bejo, dan masyarakat lainnya. Kelompok ini kami sebut dengan pasukan kalong jika di singkat menjadi PSK. Filosofi nama tersebut terinspirasi oleh hewan kalong, dimana sangat aktif dan tajam penglihatannya di malam hari, dan istirahat di siang hari, begitupun harapan untuk PSK ini agar dapat tahan dan tajam penglihatannya saat malam hari hingga pagi, dan beristirahat di siang hari.

Pergada yang kami lakukan dimulai pukul 10 malam hingga 6 pagi, mengapa tidak sampai subuh saja ? sebab berdasarkan pengalaman yang sudah-sudah, tindakan pencurian terjadi justru di saat tim-tim pergada istirahat sehabis subuh. Maka setelah kejadian itu, jadwal pergada kami perpanjang dengan kesepakatan seluruh masyarakat desa sampai pukul 6 pagi.

Waktu itu sebelum berangkat ke pos ronda untuk brifieng, saya dan alex sempatkan terlebih dahulu untuk ngopi di warung mas Gepeng. Karena jika sudah berangkat untuk bertugas, kopi kami nikmati dengan ceret dan di tuang ke dalam cangkir, bagi kami ini momen yang menyedihkan menghilangkan esensi nikmatnya kopi cangkir yang diganti dengan ceret. Tetapi tak masalah, kami jalani dengan ikhlas demi kebaikan bersama, toh juga tidak setiap hari seperti ini.

“Tugas lee.. ?” Tanya kyai Gatot.

“Nggeh yi… lha njenengan kapan jadwal e ?” Jawab Alex.

“Wes wingi aku lex..”

“Aman mboten yi ? hahaha”

“Yo aman.. pesenku ngko nek enek maling ojo terus bengok-bengok mbok kroyok, tapi takonono sek nek seng di maling kui ora barang mewah, njarno ae maling e minggat..”

“Pripun to njenengan niki yi ? enten maling kok kon njarno ae..”

“Sesok kowe lak paham.. isek mambu kencur ngertimu ki opo”

Baca Juga : YANG PENTING ISI APA KULITNYA ?

Mendengar jawaban Yai Gatot yang kurang mengenakkan tersebut, saya dan alex langsung masuk ke warung di bagian dalam, supaya tidak semakin parah mendengar omongan yai Gatot di depan.

“Jiangkrik Yai Gatoto oz.. mosok akdwe di omong mambu kencur.. ra ngerti nek kene ki wes ora mambu kencur neh..”

“Wkwkwk terus mambu opo lex ?”

“Mambu ciuuu.. wkwkwk”

“Cokk wkwkwk cangkemu kui ombenane ciu..”

Di warung tersebut cukup ramai, ada sekitar 6 orang yang ngopi di sana tetapi semuanya adalah bapak-bapak, hanya saya dan alex yang masih muda dan berenergi. Karena pemudanya hanya kami berdua, ngopipun hanya kami lewati dalam waktu sejam sebab tidak ada teman ngobrol yang pas selain kami berdua. Jika ada anak-anak muda lainnya, ibadah ngopi ini bisa kamu tunaikan lebih khusyuk dan lebih lama lagi.

Maka setelah ibdah ngopi tanpa tuma’ninah tersebut, kami segera menuju pos ronda untuk menyusul yang lain. Kebetulan saya, alex dan kang Bejo mendapat jaga di titik 4 yang berada di perbatasan desa sebelah timur yang berbatasan dengan ladang sawah, setelah melewati sawah-sawah tersebut  baru masuk ke desa berikutnya.

Dari mulai kami berjaga hingga menjelang sahur, keadaanpun aman-aman saja. Setelah kami makan sahur yang di kirim oleh bu Ita, kami lanjut berjaga di titik tersebut. Namanya manusia, setelah makan pasti mengantuk, akhirnya saya putuskan untuk jaga bergantian satu tidur dua jaga selama 10 menit setelahnya berganti-gantian.

“Aku turu sek yo lex.. kowe jogo sek karo kang Bejo ngantuk mataku..”

“Yoo… ra suwe-suwe lho tp aku yo ngantuk iki..”

“Siapppppppp…”

Tidak berselang lama saya tidur, tiba-tiba kang Bejo teriak.

“MALING… MALING… MALING…”

Sontak saya terbangun dari tidur, dan ternyata saat itu kang Bejo jaga sendirian, alex juga ikuyt tidur di sebelahku.

“Maaatamu picek kowe lex malah melok turu.. ndang cepet kabari pos liane, aku tak nyusul kang Bejo goleki maling e..”

“Oke oke oz..”

Alex dengan lari terpontang panting segera mengabarkan pada pos yang lain, maklum saat itu belum ada grup WA, hp masih jadul dan pulsaku tidak ada. Akhirnya jalan satu-satunya untuk mengabarkan pada yang lain adalah mendatangi ke titik jaga.

Karena pada saat itu orang-orang baru selesai menjalankan ibadah subuh, maka kami tim pergada di bantu oleh jamaah sholat subuh dan beberapa warga lainnya, berkeliling menyusuri desa dari depan dan belakang rumah untuk mencari keberadaan maling tersebut. Setelah beberapa saat kemudian, maling itu kami temukan sedang bersembunyi di tengah kebun pisang milik mbah Yai.

Tanpa pikir panjang.. bakkk bugggg bummmm plakk, pukulan tendangan dari orang-orang yang tidak terkendali emosinya melayang pada tubuh maling tersebut. Kang bejo dan tim pergada lainnya mencoba untuk menghentikan tindakan anarkis itu, dan segera membawa maling di tengah pos ronda, dan melaporkannya pada pihak yang berwajib.

“Ndi-ndi maling e.. tak bacok e tangan e kene..” suara mbah Yai yang tiba-tiba muncul dengan pedangnya.

“Mpun mbah Yai mpun.. kersane pihak berwajib menangani kasus niki..” Jawab kang Bejo.

“Oraa iso.. seng jeneng e maling kudu di tugel tangane pokok e..” Mbah Yai tetap memaksa ingin memotong tangan maling tersebut.

“Kowe krungu ora tak kongkon mau le ? Ojo di gepuki, wasien maling e kui njupuk opo” Tanya Yi Gatot seperti setan yang tiba-tiba muncul di sebelahku.

Baca Juga : KYAI GATOT

“Nganu yi.. niki wau situasi mboten terkendali, niki seng di maling beras sak sak nggene pak dhe kamto..”

“Alah alah alhh… wes culno ae maling e, ayo muleh turu, ngantuk to kowe ?”

“Lho kok di culno niki pripun to yi ?”

“Maling e kui ngono mung jpuk hak e wong e seng selama iki ora dinei, lagian kui maling ora sepiro kok nek geger koyo opo ae.. mbah Yai barang kae, pekok e kepolen nek iki..”

“Nggeh paling mbah Yai niku emosi to yiii yiii…”

“Tambah goblok nek emosi.. kudune prihatin, ngpo kok sampek wong kui iso maling iso nyolong, oh ternyata di nggo nyambung urip, keadaan ekonomine lemah kahanan koyo ngene.. ngunu kudune ne, nek arep emosi kudune emosi karo koruptor-koruptor kae.. seng maling duit e rakyat ra karo-karoan akeh e..”

“Koruptor ki seng pripun to yi ?”

“Jare mahasiswa tapi kok goblok.. koruptor ae gak ngerti.. wes pe muleh aku, gak tego ndelok maling di kroyok.. mosok utekke wong-wong sakiki wes koplak kabeh.. wesss wesss…”

Tanpa pamit yai Gatot pergi meninggalkan lokasi kejadian, saya yang masih bingung tetap berdiam di tempat. Di satu sisi perbuatan mencuri itu berdosa, dan di sisi lain apa yang di bicarakan yai Gatot tentang koruptor ada benarnya.

Merenungku.. kemana kita selama ini di saat uang rakyat di hisab habis demi kepentingan golongan pribadi, seolah kita buta dan tuli.. tapi di saat rakyat kecil mengambil sesuatu hanya untuk menyambung hidup esok hari, kita marah, murka seolah pihak paling berhak untuk menghakimi.. maafkan kami Tuhan.


Oleh : Tuanmuda

0 Response to "MALING… MALING… MALING… !!"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel