MEREKA MALU JADI PETANI.
Malam itu warung kopi Jubin ramai di datangi
bapak-bapak, pemuda, dan bahkan anak-anakpun ada. Seperti biasa, tak lain
tujuan mereka kesini untuk ngopi, di tempat kami, kebiasaan ngopi sudah
seperti budaya yang diwarisi secara turun temurun, maka bukan lagi pemandangan
yang baru seorang bapak dan anak ngopi bareng di sebuah warung yang sama.
Warung kopi disini tidak menyajikam menu espresso,
americano, V60, kopi tubruk dan lain-lain seperti halnya kedai kopi di
kota-kota. Tetapi sederhana saja, hanya kopi cangkir dengan tiga pilihan rasa,
manis, pahit dan sedang, yang bikin suasana ngopi di sini terasa enak dan
bahkan betah berjam-jam adalah kesederhaan dan kebersamaannya. Bayangkan saja
usai melepas lelah setelah seharian bekerja di sawah, petani di sini dapat
bersantai menikmati secangkir kopi dan sebungkus rokok sambil membicarakan
semua hal, mulai dari pilkades hingga membicarakan janda muda dari desa
sebelah.
Malam itu terasa sangat sakral bagi saya, seorang
petani sembari melinting tembakau hasil panenya sendiri, menceritakan kisah
anak bungsunya yang ingin bersekolah hingga tingkat universitas.
“Lha kowe ngolehi to
gak tot, anakmu pengen dadi cah kuliahan ?” tanya
Kang Bejo pada pak gatot.
“Yo oleh kang,
meskio mboh pie carane lehku mbandani, adol sawah yo tak lakoni, nek kui wes
dadi karepe anakku”
“Sawahmu kan ombo
tot, lahopo anakmu kuliah barang, kon ngurusi sawahmu lak wes iso nggo urip,
deloken kae Tole sekolah duwur-duwur dadi sarjana, ujung-ujung e kerjo dadi
tukang selep beras”
sahut Kang Paimin secepat kilat, seperti cahaya.
“Yo aku barang jane
pengen kang, anakku dadi sarjana iso urip luwih penak ojo dadi wong tani koyo
aku, wayah panen nek adol hasile di tuku murah-murah, wayah paceklik rego-rego
pupuk bibit mundak ra karo-karoan, opo yo ra mumet kang nek wancine koyo
ngeneki ngurusi sawah akeh. Nek masalah Tole kae pancen yo durung nasib e apik
ae paling” jawab pak Gatot, dengan penuh harapan jika anaknya
jadi sarjana bisa hidup lebih baik dari petani, selain harapan dalam jawaban
tersebut juga tergambar keluh kesah pahitnya menjadi seorang petani.
Percakapan di warung kopi tersebut cukup mengganggu di
pikiran saya, karena merasa penasaran mencoba saya telusuri lebih jauh akan hal
itu.
Keesokan harinya, saya memutuskan untuk mandi pagi dan
segera bergegas ngopi di warkop 24. Seperti yang saya ceritakan di atas, ngopi
di tempat kami sudah seperti budaya yang di wariskan turun temurun, bahkan
dalam sehari sseeorang di sini bisa ngopi 5 sampai 6 kali, bahkan ada yang
lebih dari itu.
Di warkop 24 yang kebetulan mayoritas dipenuhi
anak-anak muda, saya dapati Ferry sedang menikmati kopi sambil memainkan gitar
tua di warkopo tersebut. Ferry adalah anak Gatot yang ingin melanjutkan
pendidikannya sampai tingkat universitas. Tanpa basa-basi saya tanyakan ke dia
peihal keinginannya tersebut.
“Fer krungu tekok
bapakmu neng jubin mambengi, jare awakmu pengen nerusno kuliah, tenan to gak we
?”
“Ngopio ndisek kono
lho, teko-teko nyrocos ae koyo sepur gak ndwe rem”
“Jancok we Fer,
takok i tenanan malah guyon”
“Jane aku yo
bingung mas, ndelok wong tuoku tibo tangi ngurusi sawah akeh tapi urip yo isek
ngena ngene ae, aku pengen kuliah tapi aku yo wedi mergo ndelok Tole kae dadi
sarjana tp kerjone tukang selep, atak e ngko ndang awakmu lulus kuliah yo dadi
tukang selep mas ? hahaha”
“Cok.. gak penak
tenan cangkemu nek omong hahaha”
“Guyon lho mas, aku
yo ndongakno kowe sukses kok mas haha.. deloken to mas, konco-konco seng wong
tuone petani, sakiki akeh seng mileh kerjo nek luar kota, mergo opo, mergo isin
dadi petani urip e ngena ngene ae, panen gak mesti, ape tuku barang opo-opo
susah, makane cah-cah kui luwih seneng merantau dadi kuli, jogo pecel lele,
mergo bayarane mesti mas, lha nek dadi petani, mbendino awak di pepe, pupuk
larang, bibit-bibit larang, urung nek keterak gagal panen hadeh deh aku ndelok
bapakku kae tak pikir-pikir koyo wong stres nek gagal panen”
Dari percakapan itu, saya hanya berpikir pancen
jancok tenan urip iki, wingi paidi sakiki ferry, permainan-permainan harga
kebutuhan pertanian begitu kejam, terkadang hal itu tidak sebanding dengan
hasil panen para petani. Pak Gatot yang terkenal memiliki sawah banyak, masih
merasa kewalahan untuk embiayai sekolah anaknya, bagaimana dengan mereka yang
hanya memiliki lahan kecil.
Di saat musim panen pun, belum tentu mereka menuai
hasil yang besar, banyak faktor yang mempengaruhinya salah satu contoh adalah
maraknya tengkulak-tengkulak besar masuk ke desa, memainkan harga beli dan
harga jual se enak jidatnya.
Para tengkulak, para pemangku kebijakan, mereka semua
lupa, bahwa nasi yang ada di piring mereka, sayur segar yang mereka nikmati
setiap hari, buah-buahan yang mereka konsumsi, itu semua adalah hasil jerih
payah petani. Dan atas ke kekejaman mereka, bukan hanya petani yang mereka
matikan, tetapi juga mengkoyak-koyak keyakinan generasinya bahwa hidup menjadi
seorang petani adalah hidup yang susah.
Oleh : Tuanmuda.
Oleh : Tuanmuda.
0 Response to "MEREKA MALU JADI PETANI."
Post a Comment