AKTIPIS MODEL OPO ?

“Oz gawat iki.. Yai Gatot iso mati tenan nek iki..”
“Ooo wong edan.. kabeh wong bakal mati lex,
mangsamu yai ki nabi khidir po pie..”
“Ora ngono.. iki aku lagek bar teko warung
pecel kidul kae, ono omongan serius nek kono..”
“Lha kowe ra poso neh po pie ? Isuk-isuk ngene
kok bar teko warung..”
“Hehehe
ora oz, ra tangi aku pas sahur..”
Menjelang
hari raya kurang dari 10 hari lagi, bukan disambut dengan kabar gembira tapi
malah kabar buruk. Alex yang datang pagi itu, membawa dua kabar buruk. Pertama ia
tidak puasa lagi untuk kesekian kalinya, Kedua ia mengabarkan bahwa ada orang
yang mengincar dan menginginkan nyawa Yai kami, Yai Gatot.
Baca Juga : YAI GATOT NESU
Setelah
yai Gatot tidak sukai banyak orang karena perbuatannya, kami pikir hanya cukup
sampai disitu sangsi sosial yang ia dapatkan. Namun nyatanya masih ada pihak
yang merasa dirugikan atas perbuatannya, bukan.. bukan Pak Lurah, tapi pendukung
setianya sejak masa periode pertama pak Lurah menjabat. Orang itu merasa murka,
merasa harga diri seorang lurah junjungannya telah dipermalukan didepan umum.
“Emang e wong-wong jaremu kui,
podo ngomong pie nek warung lex ?” Tanyaku
untuk memastikan kembali.
“Ngomong, jare gak terimo nek tinggi
di koyo ngenekne, aku wedine ki mergo wong-wong mau cerito, pihak seng merasa
dirugikan kui mau bakal ngirim wong nggo nyilokoni Yai oz..”
“Lha brati kupingmu kui, krungu teko
jarene jarene ? Gak krungu dewe ? ngunu di percoyo.. goblok”
“Lha tapi iki tenan oz.. seng ngomong
wong akeh nek warung mau, makane aku percoyo, sampek pecelku iku gak tak
ntekno, tak belani ben cepet tekan kene ngabari awakmu.. tapi nek gak percoyo yowes,
tak muleh aku..”
Tanpa
pamitan Alex pulang meninggalkanku yang sedang sibuk nyuci baju pagi itu. Awalnya
saya tidak menghiraukan apa yang dikatakan Alex, sebab ternyata ia hanya
mendengar dari mulut ke mulut tentang kabar burung itu, bukan dari sumbernya
langsung.
Dua
hari berikutnya, saya menghadiri tahlilan di desa sebelah, pada saat tahlilan
tersebut ternyata apa yang di kabarkan Alex ternyata benar adanya. Ada pihak
yang masih merasa dirugikan atas perbuatan Yai Gatot, ibarat twitter #HajarYaiGatot
sedang ramai diperbincangkan oleh bapak-bapak jamaah tahlil.
Tapi
hingga detik ini, saya dan alex masih yakin apa yang dilakukan pak gatot itu
semua demi kebaikan bersama. Namun meski begitu, rasa takut akan terjadi
apa-apa terhadap Yai cukup menghantui bayang-bayang, maka saya putuskan untuk
mencari Yai dan mengabarkan perihal keslamatan dirinya tersebut.
Tiga
kali dalam sehari saya mendatangi rumah Yai gatot, sudah seperti minum obat dokter,
namun anehnya tiga kali juga saya gagal menemui Yai. Kedatangan pertama, Yai
sedang mencari pakan untuk ternaknya, kedatangan kedua ia sedang berkunjung ke
rumah saudara tuanya, dan kedatangan ketiga, entah yai sedang keluar kemana,
keluarganya pun tak ada yang tau.
Malam
itu Alex datang lagi kerumah, masih untuk membicarakan hal yang sama. Kali ini
saya menanggapinya dengan serius, dan mengatakan bahwa saya sudah mencoba untuk
bicara dengan yai hari itu, namun setelah pagi siang malam saya cari
dirumahnya, yai sedang tidak ada. Karena takut sesuatu yang tidak diharapkan
terjadi, saya dan Alex putuskan untuk berjaga-jaga disekitar rumah Yai malam
itu.
“Jane nek akdewe jogo, terus akdewe ki
iso opo to lek ?”
Tanyaku kebingungan.
“Hayo iso sak orane nyegah nek
terjadi pertumpahan darah..”
“Kok ngeri tenan kui lho opo.. ape
riyoyo ki lho, mbok ojo meden-medeni..”
“Lha tenan e.. nek enek wong seng
teko arep mateni Yai pie jal ?”
“Lha yo mbuh..”
“Ngene oz.. ngko nek enek wong seng
rene, jaken ngomong maksude opo kok arep neko-neko neng kampung kene, kowe wae
seng omong aku neng mburimu, mergane aku nek kon ngomong ilatku gampang kesleo
malah salah-salah ngko..”
“Ngomong pie, aku wedi cok…”
Baca Juga : NGAJI SORE DI SAWAH
“Alahh.. jare mahasiswa, tapi kok
goblok, nek kota dema demo lawan ketidakadilan, suarakan kebenaran, pas muleh
ndeso, diadepno masalah nek ndeso, gak iso opo-opo aktipis model opo ngunukui..”
“Lha tapi aku wedi nek aku di bres
ngunu pie ?”
“Jare melawan segala ketidakadilan
wani berkorban nyawa ? iki kowe lagi membela kebenaran lho, korbanono nyowomu..
nek enek opo-opo aku neng mburimu, senggolen aku nek suasananae tambah panas..
tak sikat e aku ngko..”
“Yo yo yo yo.. yowes nek ngono..”
Tampaknya
hal baik masih menyertai kita malam itu, hingga sahur menjelang tidak terjadi
apa-apa. Kamipun putuskan untuk pulang dan sahur di rumah. Dan pak Gatot entah sudah pulang atau minggat, kami tidak tau
keberadannya.
Oleh : Tuanmuda,
0 Response to "AKTIPIS MODEL OPO ?"
Post a Comment