ALEX MENDEM CIU
Menjelang sholat luhur orang-orang bukannya rame
menuju masjid atau musholla, tapi mereka berbondong-bondong pergi ke pos ronda yang
terletak di ujung desa. Ucapan istighfar mengiringi orang-orang ketika di pos
ronda, bahkan ungkapan makian pun terdengar di sana, hal itu terjadi bukan
tanpa sebab, melainkan karena mereka menyaksikan Alex dan satu orang temannya
sedang mabok ciu di dalam pos ronda.
Alex memang bukan seorang muslim yang taat, tapi ia
juga bukan golongan orang berandalan. Ia terkadang menjalankan perintah-NYA
tapi terkadang juga menjalankan larangan-NYA, seperti minum miras itu
contohnya. Di luar bulan ramadhan, Alex biasa minum miras tetapi ia tidak
pernah melakukannya di dalam kampung untuk menjaga nama baiknya, sehingga
ketika ia melakukannya di dalam kampung apalagi saat bulan puasa dan di siang
bolong, wajar jika hal itu cukup membuat kaget seluruh kampung.
Ferry yang saat itu berada di tempat kejadian, segera
menelfonku untuk mengabarkan kondisi Alex, sebab ia tidak berani menolongnya
takut jika Alex malah marah-marah padanya. Karena setelah beberapa kali
menelfonku dan tak ada jawaban, ia putuskan untuk langsung pergi menjemputku di
rumah. Saat itu memang kondisi hp sedang lowbat, maka saya carger di dalam
kamar dan saya tinggal menonton tv di ruang tengah. Alhasil sayapun tidak tau
jika ada sms ataupun panggilan saat itu.
Sesampainya di rumah, tanpa mengucap salam Ferry langsung
masuk kedalam dan menemuiku di depan tv ruang tengah.
“Mas Mas.. Mas Alex
mendem nek pos.. sakiki lg dadi tontonan warga, ndang cepet tulungi mas, aku
gak wani..”
“Tenan to gak kowe fer
?”
“Ya Allah.. poso aku
ki mas, lahopo aku ngapusi barang..”
“Jancokk tenan alex
isin-isini wong.. wes ndang ayo rono fer..”
Tanpa pamitan mamak, saya langsung ajak Ferry balik
lagi ke lokasi kejadian. Belum sempat berjalan, motor ferry mogok tidak bisa hidup,
setelah kami sibuk ngecek pengapian, karbu dan lain-lainnya, ternyata yang
bermasalah adalah tankinya kehabisan bensin.
Karena saya tidak memiliki motor, mau tidak mau kamipun
mendorong motor ferry untuk beberapa meter kedepan, sampai menemukan penjual bensin
eceran. Sesampainya di tempat jual bensin, masalah lain muncul lagi, kami
sama-sama tidak membawa uang saat itu, sebab saat berangkat dari rumah tadi
tidak sempat kepikiran soal uang. Akhirnya setelah beberapa saat negosiasi
dengan penjualnya, kami boleh menghutang bensin.
Setelah berada di lokasi kejadian, saya langsung
meminta untuk seluruh warga dan juga anak-anak bubar meninggalkan pos ronda. Kemudian
dengan menggunakan motor metic milik Ferry kami membawa Alex dan seorang
temannya menuju rumah Ferry dengan bonceng empat, hal ini dilakukan sebab untuk
menghindari amukan dari mbah Jo, jika kami membawa Alex pulang ke rumahnya
sendiri.
Saat berada di rumah Ferry, saya mencoba mengintrogasi
Alex dengan beberapa pertanyaan, karena kondisi Alex yang sedang mabok berat
saat itu, maka tidak ada jawaban sedikitpun tentang pertanyaan-pertanyaan yang
saya lontarkan.
Melihat kejadian tersebut, pak Gatot menertawakan kami
dengan cukup puas.
“Wkwkwkwkwk pie to
kowe ki podonan, wong ra sadar kok di jak ngomong”
“Lha pripun to pak
sampean ki, mosok yo di kon meneng wae, bahaya..” Jawab Ferry.
“Ngene lee carane, fer
jupukno degan nek buri kae seng tak tuku wingi sore..”
“Nggeh pak..”
Saya pikir pak Gatot tidak puasa saat itu sebab beliau
menyuruh Ferry untuk mengambil degan di belakang, kalau tidak untuk diminum
buat apalagi pikirku dalam hati. Tetapi ternyata praduga saya salah, degan
tersebut di belah untuk di minumkan kepada Alex dan temannya, perlahan-lahan
Alex sudah bisa diajak berkomunikasi. Dan saya baru tau saat itu, jika air
kelapa bisa menjadi obat bagi orang mabok.
“Jancok lahopo awakmu
ngeneki.. isin-isini wong cok..” Tanyakku
dengan sedikit membentak pada Alex.
“Lho iki hak ku oz..
opo salah e wong ngombe jal ? ”
“Pie to bocah iki..
mikirmu ki lho pie cek picek ?
Ferry dan pak Gatot saat itu lebih memilih diam dan
menyaksikan kejadian di dalam rumahnya tersebut.
“Ngene lho oz.. tak
kandani, ngarani sesuatu kui tergantung sudut pandange, yo po ra ? termasuk
mendem, seng ngarani mendem kui elek tergantung sudut pandange.. paham.. ?”
“Maksudmu ki pie kok aku
malah mbok cerahami ?”
“Aku ki ngombe tak nggo
obat to oz.. awak ku linu kabeh dek bengi..”
“Obat matamu kui.. gustii
paringono sabar, lex… kui ngono malah ngrusak jeroanmu nek mbok terus-tersuno”
“Tak jak gelut kowe
ngko oz.. gusti allah ojo jak ngurusi
hal spele ngeneki, ben tak rampungke dewe hal spele ngeneki”
“Lang ayo gelut, tak
ladeni kowe sakiki.. pegel aku mikir kowe lex cok i..”
“Ileng oz ileng innallaha maash shabiriin.. allah itu bersama
orang-orang yang sabar, mulano kowe sabaro ojo gampang nesu, contohen aku,
meskio mendem di geguyu wong sak kampung yo tetep sabar..”
“Kui kowe ora sabar cok..
tapi ora sadar.. paham oraa..”
“Ngene oz.. nek jaremu
mendem kui ngrusak, yo ben.. sak rusak-rusak e yo awak-awakku dewe, nek mati yo
mati dewe..”
Sebab keadaan malah semakin tidak jelas, pak gatot
menyuruh kami untuk diam, biarkan semua kembali seperti biasanya dengan
sendirinya. Tetapi bagi saya tidak semudah itu, Alex harus di selamatkan, maka saya
tetap kekeh mengajaknya ngobrol pada inti permaslahanlan.
“Lex.. wes to, ndang
tobat aku ngrungokno kajian-kajian alim ulama, dunyo ki wes arep kiamat, kowe
ojo produksi doso ae..”
“Salah kowe oz.. kudune
kowe ngongkon tobat wong-wong seng mendem jabatan, ora seng mendem ciu..”
“Kok iso ?”
“Nek wong mendem ciu,
rusak-rusak e yo awak e dewe, tapi nek wong mendem jabatan seng rusak ora kok
awak e dewe.. tapi negoro lan rakyat yo melu dadi korbane.. piro ae rakyat seng
wes mati dadi korban mendem jabatan ?”
“Kok enek bener e
omonganmu lex..”
“Kandani kok, makane
kui wong mendem ciu luwih duwur drajate ketimbang wong mendem jabatan..”
“Mergo kui mau lex, nek
mendem ciu seng rusak awak e dewe, arep gelot paling yo gelut sak kancane, tapi
nek mendem jabatan seng rusak wong sak negoro, nek gelut yo kabeh wong sak
negoro.. ngunu to pie lex ?”
“Lhaa leres mas..
pinter ngunu kok”
Pak gatot yang dari tadi diam menyaksikan, kini
kembali menertawakanku untuk kedua kalinya dengan lebih keras lagi..
“Wkwkwkwkk pie lee ?
Oleh ilmu teko wong mendem durung ? wkwkwk”
“Pripun to pak niki
kok kulo malah bingung..”
“Wes rasah bingung
arep mendem ciu koyo alex ? wkwkwkwk”
Pertanyaan itu tidak saya jawab sepatah katapun,
sedangkan Alex, temannya, Ferry, pak Gatot tertawa lepas melihatku salah
tingkah dan kebingungan dalam situasi itu..
Dalam hati saya katakan..
“Jancok di ceramahi wong
mendem ciu aku..”
Oleh : Tuanmuda.

0 Response to "ALEX MENDEM CIU"
Post a Comment