KYAI GATOT


Seperti kebanyakan orang katakan, pekerjaan paling mudah dalam hidup ini adalah membayangkan. Seandainya saya presiden, seandainya saya menteri, seandainya saya orang kaya pasti saya akan bla bla bla.. begitulah nikmatnya membayangkan tetapi tidak bisa merasakan, sebab kenyataan yang terlalu pahit bukan karena kita tidak mau berusaha, tetapi karena banyaknya orang jahat yang dengan serakah membatasai akses kita.

Namun nampaknya tidak seluruh bola itu gelap, masih ada beberapa bagian yang terang dan disanalah kita hidup. Bisa membayangkan sekaligus merasakan, bisa berjuang sekaligus memetik kemenangan, begitulah kiranya kehidupan kami di desa.

Alex semenjak kejadian yang menggemparkan satu desa karena ulahnya, kini ia seolah menemukan jati dirinya yang sebenarnya, inilah Alex tanpa tedeng aling-aling apapun. Ia tidak lagi menutup-nutupi jika dirinya tidak sedang berpuasa, tetapi juga meski demikian tidak lantas ia mengumbar perbuatannya itu depan umum.

Suatu hari saya sedang mencari Alex karena ada sedikit keperluan, dia tidak berada dirumah, tidak juga memancing di kali, setelah kemana-mana saya mencari keberadaanya akhirnya bertemulah saya dengan kang Bejo bukan dengan Alex, tetapi karena pertemuan tidak sengaja dengan kang Bejo itulah yang membuat saya tau dimana keberadaan orang gila itu.

Di warung kopi mas Gepeng, disanalah Alex berada, ternyata ia tidak berpuasa lagi dan saat saya datang Alex sibuk menghabiskan indomie goreng, sungguh godaan yang luar biasa di bulan puasa.

“Lho gak poso lee ? pesen opo ?” Tanya de Mah kepadaku.

“Poso de, mboten pesen.. enten perlu kaleh alex niki”

Kondisi di warung cukup ramai, meski di bulan puasa dan masih sore sudah jelas belum masuk waktu berbuka. Hal ini wajar, sebab bapak-bapak yang berada di warung tersebut tidak sedang berpuasa, karena mereka harus bekerja berat seharian untuk memanen padi di sawah, jika berpuasa mungkin bisa mati karena kelaparan.

Dari sekian banyaknya orang di sana tak terkecuali pak Gatot, hanya Alex yang mungkin tidak berpuasa tanpa alasan, mau alasan bekerjapun seperti bapak-bapak itu, ia juga tak cukup mampu mikul padi basah dari sawah untuk diantar ke rumah pemilik padi tersebut.

Beberapa waktu sebelumnya, di warung kopi jubin saya dan alex mengangkat pak Gatot menjadi seorang Kyai, setidaknya kyai kehidupan bagi kami berdua. Pak gatot memiliki prinsip yang pernah disampaikan pada kami, baginya ritualitas keagamaan yang hanya disuarakan melalui mimbar dan dibumbui ujaran kebencian lalu dipraktekkan dengan cara kekerasan, sudah tidak bisa lagi di terima oleh kehidupan masyarakat. Terlebih ia mengatakan, bahwa negara kita adalah kesatuan pancasila bukan kesatuan satu iman agama.

Prinsip itu kini beliau pertegas di antara kami semua, hal itu bermula saat saya dan Alex sedang ngobrol di sana.

“Enak lex mie ne ? gak poso enak ta ? hahaha”

“Lho iki ngono prinsip bos.. jare Yai Gatot hidup itu harus punya prinsip.. termasuk aku poso ki ora semata-mata aku melanggar perintah-NYA tok, tapi dalam ketidakpuasaanku ada rasa kemanusiaan di dalamnya..”

“Malah ceramah… wes ndang ntekno, aku ono urusan karo kowe iki”

“Sek to sek to.. tak rampungno lehku omong, pikiren nek kabeh wong kudu poso, sedangkan bakul-bakul ngeneki tetep kudu buka, nek kabeh wong poso terus bakul buka, lak rugi ngko gak enek seng tuku..”

“Ati-ati nek omong.. ngko warung e di grebek karo sekumpulan orang bahaya lho wkwk”

Masih seperti biasanya, sebelum berbicara pada inti persoalan pak gatot menertawakan lebih dahulu tentang percakapan kita. Saya langsung berfikir, pasti bakal ada kultum dari Yai Gatot setelah ini, dan ternyata benar demikian.

“Lee lee.. kowe ki cah nom-nom kok mikirmu sempit ngono wkwkwk”

“Pripun pak maksud e ?” Tanya Alex.

“Lha mau, debat soal poso warung oleh buka opo ora, sampek gowo-gowo rasa kemanusiaan mau opo..”

“Lha emang enten seng salah Yai ?” Jawab Alex lagi, saya lebih memilih diam dan mendengarkan dari pada nanti ditertawakan seperti kejadian waktu itu dirumah pak Gatot.

“Ora salah.. mung kurang tepat.. aku wes tau omong to, negara kita itu kesatuan pancasila bukan kesatuan iman agama”

“Nggeh.. terus ?”

“Yo dadi wajar, nek warung-warung makan tetep buka pas ulan poso… nek bakule ora islam arep opo ? terus nek bakule islam tapi kerjo utamane mung kui, arep opo jal ?”

“Lha kulo niki tanglet e yai, malah di walik..”

“Lha yo.. nek enek seng ngomong, poso-poso warung mangan kudu tutup kabeh, opo meneh ngomong e karo mbengko allahu akbar, karo ngancem nek gak tutup kate di rubohno warunge, jajal takoni islam ora agomone..”

“Lha kok saget ngoten ?”

“Dakwah kui luwih becik nganggo coro alus lee, ojo kekerasan ngonokui.. terus nek carane ngonokui, letak toleransine neng ndi ? seng salah jelas wong e ora agomone lho ya..”

“Setuju kulo yii..” Jawab Alex sambil menghisap rokoknya.

“Yo nek gak setuju yo gak popo.. tapi ngene, nek misal arep nutup warung-warung mangan pas poso, wani jamin nguripi bakule lan sak keluargane bakule ora ? , nek rawani yo brati ojo leh mateni rejekine wong.. dengkul e amoh to pie, ape sak karepe dewe.. opo meneh nek kui dilakoni atas nama membela agama.. wes jan rusakk, ora perdamian seng teko, tapi perang agomo seng ono..”

“Brati wong-wong seng mbengok-mbengok allahu akbar karo ngongkon nutup warung mangan pas poso, nek ra tutup bakal di rubohno kae salah yi ?” Tanya Alex..

“Ora salah, mung kurang bener carane.. seng salah ki kowe ora kerjo ora nduwe tanggungan opo-opo tapi ora poso melu cangkrungan awan-awan neng warung karo wong kerjo.. lha kui salah”

“wkwkwk rungokno kui kupingmu lex…” sahutku.

“Hehehehehehehe…” Jawab Alex sambil cengengesan.

Disitulah jika pak Gatot membayangkan seandainya jadi Kyai, maka sebenarnya ia sudah merasakan dan menjadi seorang Kyai, tanpa harus dibatasi aksesnya dengan melengkapi syarat pakaian harus putih bersih, bersurban dan cara ngomongnya ke arab-araban.


Oleh : Tuanmuda.

0 Response to "KYAI GATOT"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel