KORUPSI TIDAK MENGENAL AGAMA.
Hari itu adalah hari jum’at, dan kebetulan bertepatan
dengan jum’at wage. Masyarakat di tempat kami memiliki tradisi di hari jum’at
wage, yaitu ambengan. Ambengan merupakan semacam ritual keagamaan, yang
dilakukan oleh warga sekitar dengan membuat nasi ambeng diatas nampan, kemudian
nasi itu diantar ke musholla menjelang sholat maghrib.
Lalu setelah sholat maghrib berjamaah, nasi tersebut
akan kita acak lalu didistribusikan ke setiap orang yang berada di musholla
untuk kemudian di makan kembali, syaratnya adalah orang itu tidak mendapat
ambeng yang ia bawa sendiri dari rumah, jika hal ini terjadi maka akan di tukar
dengan nasi orang yang ada di sebelahnya, namun sebelum ambeng itu di makan
akan terlebih dahulu di bacakan do’a-do’a keselamatan, keberkahan, serta
hal-hal baik lainnya yang di pimpin oleh pak Kyai.
Entah bagaimana tradisi ini bermula saya kurang paham
secara mendetail, namun sejauh yang saya tau adalah, dari sisi sosial ambengan
dilakukan agar para tetangga dapat merasakan apa yang kita rasa, inilah kiranya
aktualisasi dari falsafah jawa, “Urip Iku Urup” yang artinya hidup itu menyala.
Falsafah ini mengajarkan, sejatinya manusia itu hidup harus menebar manfaat
bagi kehidupan disekitarnya, baik alam maupun manusia.
Masyarakat jawa sadar, bahwa nasib seseorang satu
dengan lainnya belum tentu sama, mungkin si A bisa makan daging, makan telur
setiap hari, dan si B hanya cukup mampu makan sayur daun singkong. Maka dengan
adanya ambengan, tidak harus menunggu hari lebaran idul adha bagi si B
untuk dapat makan daging.
Jum’at wage kali ini bertepatan dengan bulan ramdhan,
maka tradisi ambengan dilakukan dengan cara seperti diatas, tetapi
waktunya di ganti sore menjelang berbuka dan dilanjutkan dengan berbuka bersama
di mushola. Sore itu pukul 16.00 saya sudah mandi, berpakaian rapi, dan
menggunakan sarung seperti orang-orang lainnya, tentu saja tujuannya adalah
untuk mengikuti ambengan di musholla.
Pukul 16.30 saya sudah berada di musholla dan duduk
rapi di tempat favorit, belakang rak al-qur’an. Tempat itu saya pilih karena
posisinya yang strategis, dapat mendengar seluruh pembicaraan orang-orang
dengan jelas, dan tentunya posisi saya terhalang dengan rak sehingga tak dapat
dilihat oleh orang dari sudut tertentu. Tidak lama kemudian, Alex datang dengan
membawa ambengnya, dan seperti biasa dia langsung mengambil posisi duduk
di sebelah saya.
“Ambengmu lawuh e
pitek ora lex, nek pitek tak jukuk e aku ngko hehe”
“Halah ra trimo pitek
oz, sapi lawuh e nyolong sapine pak Lurah terus tak beleh mambengi”
“Alah cangkem kok gak
kenek dipercoyo belas, koyo janji-janji kampanye pilpres ae”
“Lha kowe yo aneh,
pitek e sopo seng ape tak beleh, kulup kates kuwi lawuh e ambengku”
Saat sedang asyik ngobrol, tiba-tiba kami mendengar
ucapan pak Kyai yang intinya mengeluhkan keadaan negara hari ini. Hingga di
ujung pembicaraan, beliau berpesan agar supaya saat pemilihan pemimpin entah
rt, lurah, camat, bupati, gubernur, presiden pilihlah mereka yang seiman,
supaya setidak-tidaknya jauh dari perilaku yang dilarang agama, misalnya
korupsi. Dawuh pak Kyai.
“Krungu dawuh e mbah
Yai to gak kupingmu kui lex, pilihlah yang seiman..”
“Krungu oz tapi aku
bingung, kan sampek sak mrene calon-calon rt, lurah, sampek presiden agomone
islam kabeh oz, jane seng ra ngerti ki aku opo mbah Yai seng lali wkwk”
“Paling seng di maksud
mbah Yai memilih pemimpin nek luar negri lek wkwkwk”
“Yo paling ngunu oz,
wes jan mbah Yai mbah Yai..”
Waktu menunjukkan pukul 17.05, kurang sekitar setengah
jam lagi kita akan melaksanakan berbuka puasa. Sambil menunggu waktu berbuka,
saya dan Alex menerka-nerka kira-kira kita akan dapat ambeng dengan lauk apa
nanti, harapannya sih mendapatkan daging sapi, maklum jarang-jarang orang
seperti saya dan alex dapat makan daging setiap saat.
Tiba-tiba, pak Gatot yang duduk disebelah Alex
berbisik kepada alex
“Mbah Yai ratau ndelok
tipi kyone kui le, sampek gak roh wingi-wingi seng korupsi ki lak yo pemimpin
seng seiman”
“wkwk nggeh menwai
pak”
Setelah beberapa menit menunggu, akhirnya tiba juga
waktu berbuka. Dan bahagia tiada tara, ambeng yang saya buka di balik tutup
daun pisang ternyata lauknya adalah daging sapi, berbeda halnya dengan ambeng
yang di dapat alex yang lauknya berisi tempe dan sayur daun singkong. Melihat lauk
itu, saya kemudian berbagi kebahagiaan dengan membagi daging sapi tersebut
kepada Alex, supaya bahagia itu tidak hanya saya rasakan sendirian.
Seusai ambengan dan sholat berjamaah, saya langsung
pulang menuju rumah, tak berselang lama Alex datang kerumah saya kemudian kami
duduk-duduk di teras sambil menikmati sebatang rokok sebelum adzan isya
berkumandang. Di dalam suasana itu Alex membicarakn kembali tentang dawuh pak
Kyai di musholla tadi.
“Oz, aku iseh kudu
ngguyu karo dawuh e pak Kyai mau, di tambah omongngane pak Gatot jare mbah Yai
ratau ndelok tipi dadi kekurangan berita wkwk”
“Aku wingi isuk
sahur-sahur kae ngrempolo karo mas Gepeng karo Cekot lex, tentang masalah pak
Gatot karo Ferry anake kae, jebul meskio pak Gatot nek masalah ngeneki pinter,
wong e tak kiro bingung mikir Ferry, kui nek tak delok teko hasile ngrempolo
kae.. tapi yo nek masalah ngeneki, seng mbok omong mau, yo ngonokui lho lex,
nek wong kurang informasi terus sok tau akhire malah di geguyu koyo pak Kyai”
“Makane kui, kaet mbok
sadarno wingi kae tidak semua Kyai itu pintar dalam segala hal, aku sakiki
mikir pindo nek di dawuhi mbah Yai”
“Lha kui lho lex..
sakiki jaman wes berubah, dawuh tentang agomo seng hubungan karo kehidupan
sosial kudu di uprgade ojo konservatif ngunukui”
“Maksud e pie oz ?”
“Goblokem kebangeten
lex wkwk.. ngene lho, jaman sakiki ora mesti nek sak iman kui bakal amanah, ojo
kok ora korupsi, agomo ae di dol lho lex, wasi nek musim kampanye, moro-moro
calon-calon pemimpin nek sholat di shoting, nek sodaqoh di shoting, nek kaji
karo umroh di shoting, ngunui ben opo jal, ben oleh dukungan teko wong islam,
ben ketok nek agomone kuat, padahl nek wes dadi kepilih, sholat limang wektu ae
mboh jangkep mboh ora, terus opo korupsi ? wes akeh pemimpin-pemimpin seiman
tapi korupsi sak ndayak kae..”
“Oalah ngunu to oz..”
“Lha iyo lex, dadi gak
enek jaminan nek seiman kui gak bakal korupsi, wong korupsi iku gak kenal agomo…
mestine dawuh e mbah Yai di ganti ngene lex ‘ehem nggeh poro sedulur, poro
sederek poro sesepuh lan bini sepuh mbenjang-mbenjang nek ajeng e milih
pemimpin niku, pilihen seng silsilah e jelas, nek agomo yo kudu di pastekno
mboten sekedar agomo ten KTP, terus sak dereng e nyalon niku pribadine pripun
sae nopo mboten, nggeh pokok e sing penting kudu jeli teliti lan waspodo, ojo
gampang diapusi karo busono’ ngunu kudune lex, pie masok to gak suoro karo
gayaku nek dadi Yai ?”
“wkwkwk cokk.. Gayamu
masok, tur nek kowe dadi Kyai, seng ono malah gajah kalung bendo iso khotbah
iso kojah gak iso nganggo wkwk”
“Wkwkwk cangkemmu mbok
seng apik nek omong..”
Oleh : Tuanmuda.

0 Response to "KORUPSI TIDAK MENGENAL AGAMA."
Post a Comment