CIKAL BAKAL KORUPSI
Baru selesai waktu sholat tarawih, orang-orang ramai
duduk-duduk berkumpul di depan musholla. Suasana ini sebetulnya sudah biasa
terjadi, para bapak-bapak berkumpul di depan musholla sembari menunggu waktunya
mereka melanjutkan tadarus al-qur’an. Meski tidak ada aturan tertulis mengenai
anak-anak dan pemuda tadarus di awal dan bapak-bapak tadarus di akhir, hal ini
sudah seperti semacam aturan tak tertulis yang di taati dan berlaku ditengah
kehidupan masayarakat kami.
Malam itu lain dari biasanya, jika biasanya mereka
hanya sekedar berbincang kabar hari ini, kali ini mereka membicarakan hal yang
cukup serius yaitu korupsi. Tampaknya hal itu masih ada kaitannya dengan dawuh
pak Kyai di malam sebelumnya, tentang pilihlah pemimpin yang seiman setidaknya
agar terjauhkan dari segala sesuatu yang di larang oleh agama, termasuk korupsi
itu sendiri.
Suasana semakin menarik, ketika pak Gatot memulai
membicarakan masalah dana desa, ada yang berpendapat bahwa desa kami akan terus
jauh dari kata maju, yang dapat disebabkan oleh dua hal dan itu selalu
berulang-ulang setiap kali ganti pemimpin, pertama adalah penggunaan dana desa
yang tidak efisien dan tidak tepat sasaran, contohnya pengembangan desa hanya
dilihat dari pembangunan infrastrukturnya, membangun balai desa megah-megahan
tetapi absen dalam pembangunan sumber daya manusianya. Kedua adalah, mental-mental
pemimpin yang masih mendudukkaan jabatan sebagai ladang mencari kehidupan, ini
tidak salah tetapi yang jadi salah ketika kemudian mental itu mengkaburkan
makna pengabdian dalam suatu jabatan, akhirnya tumbuhlah budaya korupsi, budaya
melanggengkan kekuasaan hanya untuk keluarga dan sanak familinya dan lain.
Melihat suasana yang semakin tegang itu, pak Gatot
mencoba mencairkan kembali susana dengan menawarkan pentol kepada para
bapak-bapak, yang kebetulan saat itu tukang pentol langganan masyarakat kami
melintas disana. Al hasil, suasana kembali cair seperti sedia kala.
Usai melaksanakan tadarus al-qur’an, saya tidak
bergegas pergi kerumah melainkan langsung bergegas menuju warung kopinya mas
gepeng. Di sana saya dapati Alex yang sudah dengan santainya menikmati ketan
sambil minum kopi.
“Oooo jiangkrik kowe
lex, tarawih ora, tadarus ora tibakno jandoman neng kene.. gak jogo warung to
pie awakmu ki ?”
“Teko-teko kok
njangkrik-njangkrik no wong, iki ngono mau wetengku mules gak penak.. dadi yo
aku gak tarawih gak tadarus.. warung e di jogo ibuk oz”
“Weteng mules gak iso
tarawih, tapi lek kon ngopi kok iso cokk.. enak iki koyone ketane lex, isek ono
po gak ?”
“Hehehe.. jane males
ae aku tarawih wkwk, iseh ono kae lho.. jupuk o neng buri, gratis kok ibuk e
mas gepeng seng gawe”
Ketan merupakan makanan kesukaan hampir seluruh
masyarakat desa kami, dan Mak Imah memang terkenal suka sekali membuat ketan di
bulan ramadhan, kemudian di bagikan secara gratis kepada siapa saja yang datang
ngopi di warungnya malam itu.
Setelah saya pergi dari dapur dan kembali ke depan,
ternyata di sana sudah ada pak Gatot dan pak dhe dullah. Pak dhe merupakan
bapak dari Ai atau mas gepeng, ia dikenal sebagai sosok yang masih berpegang
teguh pada adat serta nasihat-nasihat hidup ora jawa kuno, maka bukan hal yang
baru jika ia sangat akrab dan dekat sekali dengan pak Gatot. Keduanya memiliki
kesamaan dalam cara pandang, sehingga obrolan-obrolan mereka banyak mengandung
ketladanan tentang kehidupan ala masyarakat jawa, apalagi jika hal itu di
padukan dengan kondisi masyarakat hari ini, entah karena kebetulan atau tidak
tetapi banyak hal yang relevan di dalamnya.
“Ketan pak.. monggo
tseh anget niki” sapaku pada
pak Gatot.
“Yo lee.. ngko tak
jupuk dewe, kae alex wes jupuk durung ?”
“Sampun pak, tapi niki
ajeng e tambah maleh hehe”
jawab Alex.
“Wong jowo kok ora
njawani lex Alex..”
“Lha pripun to pak ?
kulo namung ajeng e tambah ketan kok, hubungane kalehipun jowo mboten njawani
nopo ?”
“Wong jowo iku ‘Memayu
Hayuning Bawono, Ambrasto dur Hangkoro’ paham ora ?”
“Hehe mboten pak,
pripun niku maksud e ?”
“Ealahh… bocah jaman
sakiki.. ngene lho artine kui mau, ‘manusia hidup di dunia itu harus
mengusahakan keselamatan, kesejahteraan dan memberantas sifat angkara murka,
serakah lan tamak’ tekan kene paham ?”
“Dereng pak hehe”
“lingguh o kene lee
tak jak ngaji urip, lelakonmu arep tambah ketan kui mau koyone spele.. tapi kui
tondo-tondone cikal bakal korupsi”
“Kok malah tekan
korupsi to pak ?”
“Aku takon, opo
kanca-kancamu cekot lan sakpiturute wes kebagian ketan iki ? kang Bejo, mbah
Yai, kang Jimin opo wes kebagian ketan iki ?”
“Dereng pak niki
ketingale…”
“Lha yo wis kui
jawabane.. aku ora kok nyalahno kowe arep tambah ketan maneh mergo iseh luwe,
tambahono nek kanca-kancamu, wong-wong liyane wes podo ngicipi ketan kui.. nek
durung podo ngicipi yo ojo tambah, kui ngono contoh lelakon menungso tamak lan
serakah.. mergo ketan-ketan kui mau meskio gratis, tetep ono jatah e wong liyo,
ora kok terus sak penak e udelmu mbok ntekno dewe”
“Oalah ngoten pak..”
“Lha iyo.. mulanono
ilangngono lelakon-lelakon ngunukui lee.. opo-opo kui mesti ono wates e, lan
mesti ono jatah e wong liyo neng kono, ojo mbok sikat kabeh.. mesti mengenal
batas”
“Nggeh-nggeh pak..
kulo mboten sios tambah”
Saya yang berada di bagian luar warung dan
mendengarkan percakapan tadi, ketawa cekikian apalagi saat melihat Alex dengan
muka malunya keluar warung dan menyusul saya yang berada di depan.
“Modyar o
mbengi-mbengi oleh ceramah wkwk”
“Iyo e jancok tenan,
isen aku oz karo pak Gatot wkwk”
“Meskio ngunu,
ileng-ileng seng di omong pak Gatot.. ilmu kui, makane dadi wong ojo kemaruk,
ojo serakah mikir weteng e dewe.. kanca-kancane sedulur-sedulur liyan yo melu
di pikir nek kowe lagi posisi seneng”
“Nggeh pak nggeh
siap.. omonganmu wes koyo pak Gatot ae oz, cok tenan..”
“wkwkwkwkwkwkwkwkwkwkwk”
Oleh : Tuanmuda.

0 Response to "CIKAL BAKAL KORUPSI"
Post a Comment