SEKOLAH TANI


Di tengah kegagapan publik memaknai pendidikan, mba jenny dan anaknya Irfan mencoba melawan arus tersebut. Irfan yang seharusnya tahun ini masuk ke tingkat pendidikan Sekolah Menengah Pertama atau SMP, justru ia dan ibunya memilih tidak melanjutkan pendidikan tersebut. Mereka lebih memilih sebagai pembelajar jalanan, belajar bertani, belajar menanam, belajar merawat, dan belajar memanen, sungguh pilihan yang sangat fenomenal.

Mba Jenny dan Irfan masih merupakan bagian dari keluarga besar Alex. Di usianya yang belia, jika anak-anak lain seusianya di kirim ke institusi pendidikan formal, lainnya halnya dengan Irfan yang di kirim oleh orang tuanya ke pondok pesantren semi modern. Mengapa saya sebut semi modern, karena dalam pondok ini para santrinya tidak hanya di ajarkan ilmu-ilmu agama, tetapi juga di ajarkan tentang ilmu-ilmu umum layaknya sekolah-sekolah formal lainnya.

Bedanya, jika di sekolah formal harus menggunakan pakaian rapi, bersepatu, rambut harus juga rapi, di pesantren ini tidak demikian. Santrinya di pagi hari ajarkan untuk berkebun, usai berkebun mereka dapat mengikuti pembelajaran ilmu umum, tidak harus berseragam rapi dan bersepatu, mereka menggunakan pakaian apa saja yang dikenakan saat itu, dan rambut juga tidak harus di potong dengan gaya yang sama, terlebih di pesantren selalu identik dengan rambut gondrongnya. Hal itu dilakukan sebab para pengurus pesantrennya sadar, bahwa yang akan belajar itu otaknya, bukan pakaian dan penampilannya. Menarik sekali bukan.

Siang itu saya akan pergi memancing di kali dekat sawah, dan sudah barang tentu saya ajak Alex untuk pergi bersama. Meski ikan-ikan di sini cukup banyak, tapi kami tidak pernah memancing sebanyak-banyaknya sekiranya cukup untuk lauk berbuka, maka kami sudahi memancingnya.

Sesampainya di kali, kami langsung menuju spot strategis yang biasa kami tempati, orang-orang di sini menyebut spot tersebut dengan nama Ngisor Trengguli. Tempatnya tidak panas, sebab banyak pohon-pohon besar disekelilingnya yang menutupi sinar matahari. Sambil menunggu pancing kami di sambar ikan, saya coba membuka obrolan dengan Alex terkait Irfan kerabatnya tersebut.

“Irfan kae jare wes muleh lex, kok gak nerusno SMP ?”

“Halah cangkemmu ki.. meneng o iwak e wedi iki ngko nek cangkemmu kui ngomong teros”

“Cok jaran.. ogak-ogak nek iwak e wedi, lho deloken iki matamu, aku oleh iwak ki wekk”

“Lho kok kowe oleh sek.. pelanggaran iki”

“Haa berati gak ngaruh akdwe arep omong-omongan opo ora, buktine aku ngomong yo oleh iwak wkwk”

Alex percaya jika saat memancing dilarang untuk berbicara, sebab menurutnya jika berbicara bisa mengusir ikan-ikan di didepannya. Namun saat itu, teorinya terbantahkan dan ia melihatnya sendiri, saya dapat ikan lebih dulu padahal saat itu saya sedang mengajaknya ngobrol, dengan rasa sedikit malu Alex menampakkan wajah keslanya, dan mulutnya berkomat kamit layaknya dukun entah apa yang ia bicarakan.

“Pie lex.. awakmu durung jawab pertanyaanku lho, malah moco dungo wkwk”

“Iyo-iyo tak jawab.. Cok i, gak moco dungo aku, gatelen ae cangkemku..”

“Pie, jare Irfan gak nerusno ? Lahopo ?”

“Lha emang genyo oz ? Wong ki nduwe prinsip e dewe-dewe.. gak sah mbok padak-padakno”

“Cok we.. aku ki takon tenanan ora kok madak-madakno”

“Wkwkwk yo santai lho gak sah srengen.. ngene lho oz, mba Jenny iki nduwe prinsip nek dekne gak percoyo seng iso gawe pinter iku muk sekolahan tok”

“Lho kok iso ?”

“Yo iso..  menurut mba Jen, sekolahan sakiki malah nyetak wong-wong seng lali teko ndi wong e iku berasal, lali mencetak generasi-generasi seng cinta lingkungan dan alam”

“Lha terus karepe mba Jenny pie sakiki ?”

“Mba Jen, luwih milih anak e di jak sinau dewe, golek ilmu dewe.. teko opo, yo teko opo ae seng ono nok sekitare, misale bertani kui…”

“Sekolah yo di ajarno tentang ilmu pertanian lex..”

“Yo bener oz, tapi sekolah gak pernah mraktekno langsung to.. sinau teori, kui ae instan sak pertemuan tok, terus hasil e sok-sokan ngerti sekabehane tentang pertanian, kan kurang ajar”

“Terus pie lex ?”

“Sakiki aku takon opo bedane wong sinau nek sekolah karo nek omah ? gak enek, bedane mung oleh ijazah karo ora.. sedangkan mba Jen gak butuh ijazah, wes brati podo ae sinau nek omah kro nek sekolahan”

“Takok-takok dewe di jawab-jawab dewe.. wong edan wkwk”

“Yo gak ngunu oz, aku wes ngirio nek kowe tak kon jawab gak tekan mesti utekmu wkwk…”

Sampai sejauh ini saya paham, pilihan mba Jenny tersebut mungkin berangkat dari kegelisahannya tentang pendidikan kita hari ini, dan ia beserta anaknya memilih prinsip hidupnya sendiri.

“Tapi lex, mba Jenny brati pengen Irfan dadi petani ngono nek wes gede ?”

“Yo iso ae oz.. aku yo gak paham nek kui.. tapi aku yakin, nek Irfan tekun neng bidang kui sok mben dekne bakal luwih paham tentang pertanian timbang aku karo awakmu.. terus kan dadi petani yo gak dadi masalah to, jaremu generasi muda mulai gengsi dadi petani.. lha iki Irfan sebagai bibit unggulan petani lho..”

“Iyo bener lex.. aku dukung kok, opo meneh nek kui wes dadi karepe Irfan karo mba Jenny”

“Pokok e nek menurutku ki ngene oz.. mba Jenny kui pengen anak e mengenal pendidikan yang tidak jauh dari lingkungannya, pendidikan seng menyatu dengan sekitar, ogak tersekat tembok, ogak kudu nganggo pakaian rapi.. kui sebagai kritik pendidikan sakiki seng mulai adoh karo lingkungan sekitar, asing karo persoalan sosial.. ngunu lho”

“Jozzz aku mantep dukung lex…”

Karena waktu sudah hampir sore, dan ikan hasil pancingan saya rasa sudah cukup untuk berbuka nanti, saya ajak Alex untuk segera pulang. Sebelum saya mengajaknya, saya pastikan terlebih dahulu bahwa ia juga mendapatkan ikan sama banyaknya dengan yang saya dapatkan, agar ia juga dapat berbuka bersama keluarganya dengan lauk hasil tangkapannya sendiri.

“Wes akeh ngunu lex olehmu.. wes ayo muleh, wes yah mene..”

“Yowes ayok.. sek tak rokokan karo mlaku muleh..”

“Lho jancok awakmu gak poso lex ?”

“Puasa itu bagi yang mampu wkwkwkwk”

“@#%$#@!*&%^%$**&%%$*&& Lex…. Alex…”

Oleh : Tuanmuda.

0 Response to "SEKOLAH TANI"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel